"Pemerintah harus memikirkan keselamatan para calon," kata salah satu calon presiden Afghanistan, Hanif Atmar, melalui juru bicaranya, Qadir Shah.
Seperti dilansir AFP, Selasa (30/7), sebanyak 20 orang meninggal dan 50 lainnya luka-luka dalam serangan terhadap kantor tim sukses kandidat presiden Amrullah Saleh di Ibu Kota Kabul. Saleh adalah rekan dekat dan wakil Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Atmar berusaha menyaingi Ghani untuk melaju ke periode kedua, dalam pencoblosan yang bakal digelar pada 28 September mendatang.
Kandidat lainnya, Mohammad Hakim Torsan, juga ketakutan dengan keselamatannya setelah kejadian yang menimpa Saleh.
"Banyak calon presiden cemas dengan keselamatan mereka, tetapi mereka harus berkampanye. Pemerintah harus menjamin keamanan bagi kami dan para penduduk," kata Torsan.
Ghani bakal bersaing dengan 17 kandidat presiden lainnya. Dia membidik masa jabatan kedua sebagai petahana.
Ghani menggaungkan slogan soal perdamaian Afghanistan jika dia terpilih kembali. Namun, hingga saat ini dia belum bisa membuat kesepakatan apapun dengan kelompok Taliban yang tumbang dari kekuasaan pada 2011 silam.
Pesaing utama Ghani adalah Abdullah Abdullah. Dia saat ini menjabat sebagai kepala staf kepresidenan.
Taliban sampai saat ini tidak mengakui pemerintah Afghanistan di bawah kepemimpinan Ghani. Mereka menolak duduk di meja perundingan dengan pemerintah Afghanistan jika pasukan asing belum ditarik dari negara itu.
Tuntut Pilpres Bersih
Di sisi lain, ada kekhawatiran pilpres kali ini tidak jujur. Ajang ini menjadi yang keempat kali sejak kekuasaan Taliban runtuh pada 2011.
[Gambas:Video CNN]
Pemerintah juga sudah dua kali mengundur waktu pencoblosan tahun ini. Rakyat juga curiga hasilnya bakal penuh dengan kecurangan seperti dugaan yang terjadi pada lima tahun lalu.
Atmar dan 12 capres bahkan mengancam memboikot dan menuntut pilpres bakal berlangsung jujur dan bersih. (ayp)