Taliban Tolak Ajakan Berunding Pemerintah Afghanistan

CNN Indonesia
Minggu, 28 Jul 2019 16:14 WIB
Taliban menyatakan baru mau berdialog dengan pemerintah Afghanistan setelah seluruh pasikan AS dan NATO ditarik. Ilustrasi anggota biro politik Taliban saat perundingan damai dengan AS di Qatar. (AP Photo/Alexander Zemlianichenko)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Afghanistan menyatakan siap melakukan perundingan damai dengan Taliban ditengahi Jerman. Namun, Taliban menolak ajakan itu dan menyatakan mereka baru mau melakukan hal itu setelah Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) benar-benar menarik seluruh pasukannya dari Afghanistan.

"Kami sedang mempersiapkan perundingan langsung. Kami bekerja sama dengan semua pihak dan berharap hal ini bisa terlaksana dalam dua pekan lagi, yang akan dilaksanakan di Eropa," kata Menteri Urusan Perdamaian Afghanistan, Abdul Salam Rahimi, seperti dilansir AFP, Minggu (28/7).
Rahimi menyatakan mempersiapkan rombongan juru runding sebanyak 15 orang untuk bertemu dengan delegasi Taliban. Menurut informasi yang dihimpun, perundingan ini bakal digelar di Oslo, Norwegia pada 7 Agustus mendatang.

Di sisi lain, Juru Bicara Biro Politik Taliban di Qatar, Suhail Shaheen, membantah mereka bakal segera berunding dengan pemerintah Afghanistan. Mereka menyatakan baru mau bernegosiasi jika seluruh pasukan asing sudah angkat kaki dari Afghanistan.


"Perundingan Intra-Afghan baru bisa terlaksana jika sudah ada pengumuman penarikan seluruh pasukan asing," kata Shaheen.

Juru Runding Amerika Serikat untuk perdamaian Afghanistan, Zalmay Khalilzad, menyatakan sudah beberapa kali bertemu dengan perwakilan Taliban di Qatar. Mereka menyatakan sudah sepakat mengakhiri perang yang sudah berjalan selama 18 tahun.
Menurut informasi yang dihimpun, AS dan Taliban pekan ini bakal meneken nota kesepahaman untuk memastikan jadwal penarikan pasukan asing dari Afghanistan.

AS bakal menarik pasukan jika ada jaminan Afghanistan tidak bakal dijadikan basis kelompok radikal. Sedangkan Presiden Afghanistan, Ashraf Gani, ketar-ketir jika AS dan NATO pergi maka mereka harus berhadapan langsung dengan Taliban.

Taliban juga menolak berunding langsung dengan pemerintah Afghanistan karena dianggap tidak sah dan hanya menjadi boneka AS.

Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan ada sekitar 3.804 penduduk sipil termasuk lebih dari 900 anak tewas dan tujuh ribu lainnya mengalami luka-luka dalam konflik di Afghanistan pada 2018.

[Gambas:Video CNN]

Wilayah kekuasaan dan pengaruh Taliban di Afghanistan juga dilaporkan semakin luas, meski AS menggulingkan mereka pada 2001 silam. (ayp/ayp)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER