Diduga Kelaparan, Pembelot Korut dan Anaknya Tewas di Korsel

CNN Indonesia | Rabu, 14/08/2019 03:56 WIB
Diduga Kelaparan, Pembelot Korut dan Anaknya Tewas di Korsel Ilustrasi. (Istockphoto/aradaphotography)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang pembelot Korea Utara bersama anak laki-lakinya yang berusia enam tahun ditemukan tewas di sebuah apartemen di Seoul, Korea Selatan, Selasa (13/8). Keduanya diduga tewas akibat kelaparan.

Kepolisian Korsel menemukan jasad perempuan yang teridentifikasi bernama Han itu bersama anaknya pada 31 Juli lalu, dua bulan setelah keduanya tewas.

"Kami tidak melihat ada tanda-tanda pembunuhan atau bunuh diri. Kami masih menunggu hasil autopsi dari Lembaga Forensik Nasional," ujar seorang petugas kepolisian Gwanak, Seoul.
Seperti dilansir AFP, para pembelot Korut yang kabur ke Korsel dan memenuhi syarat berhak mendapatkan subsidi dari pemerintah Negeri Ginseng. Meski memiliki uang saku, sebagian pembelot Korut sulit beradaptasi dengan warga lokal.


Surat kabar lokal Dong-A Ilbu memberitakan bahwa Han sempat menarik uang sebesar 3.858 won atau Rp45.169 dari rekeningnya dua bulan lalu.

Sementara itu, perempuan yang diyakini berusia sekitar 40 tahunan itu memiliki tagihan kontrakan dan gas yang belum dibayar selama setahun terakhir.
Aparat juga tidak menemukan makanan apa pun di kulkas apartemennya ketika mengamankan jasad Han dan anaknya.

Koran itu melaporkan Han membelot ke Korsel melalui China pada 2009 lalu. Tak lama setelah tinggal di Korsel, Han menikah dengan seorang pria China dan pindah ke Negeri Ginseng.

Setelah bercerai, Han kembali ke Korsel tahun lalu bersama anaknya. Selama hampir setahun di Korsel, Han disebut sulit mendapat pekerjaan.
Kepolisian menolak mengonfirmasi laporan Dong-A Ilbo itu.

Meski Korsel merupakan negara dengan perekonomian terbesar keempat di dunia, kematian keluarga akibat kemiskinan dan isolasi sosial semakin sering dilaporkan terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Sementara itu, data pemerintah Korsel menunjukkan pembelot Korut memiliki peluang niat bunuh diri tiga kali lebih besar dari warga Korsel karena trauma, isolasi sosial, dan kemiskinan. (rds/has)