Kondisi itu terjadi selepas dia menjalani operasi, dan baru ketahuan delapan hari sesudahnya. Kasus ini terungkap berdasarkan laporan yang dirilis Rumah Sakit James Paget di British Media Journal pada Senin (12/8) lalu.
Enam hari setelah operasi, sang kakek kembali ke rumah sakit dan mengeluh mulutnya penuh darah dan kesulitan bernapas serta menelan. Dia juga mengaku tidak bisa menyantap makanan yang keras.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Merasa belum membaik, sang kakek kembali ke rumah sakit dua hari kemudian dan kondisinya memburuk. Dokter lantas menduga dia mengalami pneumonia.
Benda itu dianggap menjadi penyebab infeksi dan pembengkakan pada organ dalam. Sang kakek kemudian ditanya apakah kemungkinan dia menelan sesuatu, dia hanya mengatakan kehilangan gigi palsunya.
Dokter lantas bergegas memeriksanya dan ternyata benar yang tersangkut di tenggorokan sang kakek adalah gigi palsu. Dia langsung dilarikan ke ruang bedah.
Setelah itu, dia kembali dirawat selama enam hari. Usai operasi kedua, kondisi sang kakek baru kembali pulih setelah sebulan.
[Gambas:Video CNN]
Penulis jurnal, Harriet Cunniffe, menyarankan para ahli bedah untuk memastikan gigi palsu pasien dilepas sebelum operasi. Dia mengingatkan kejadian itu adalah salah satu contohnya, dan membuat pasien harus menjalani operasi lebih banyak dan harus menderita dua kali. (ayp/ayp)