Trump Sebut Sikap China atas Hong Kong Pengaruhi Dialog

CNN Indonesia | Senin, 19/08/2019 10:00 WIB
Trump Sebut Sikap China atas Hong Kong Pengaruhi Dialog Presiden Donald Trump memperingatkan jika China menanggapi aksi demonstrasi di Hong Kong dengan kekerasan, perundingan perang dagang dengan AS bisa terancam. (Reuters/Joshua Roberts)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa jika China menanggapi aksi demonstrasi di Hong Kong dengan kekerasan layaknya tragedi Tiananmen, perundingan perang dagang dengan Amerika Serikat bisa terancam.

"Saya rasa akan sangat sulit menyepakati sesuatu jika mereka melakukan kekerasan, apalagi jika ada tragedi Tiananmen lain. Saya rasa akan sangat sulit jika mereka melakukan kekerasan," ujar Trump sebagaimana dikutip AFP.

Trump melontarkan pernyataan ini ketika para pejabat tinggi AS dan China sedang merencanakan pertemuan untuk menggodok perjanjian demi mengakhiri perang dagang kedua negara.
Sebelumnya, Trump berharap kedua belah pihak bisa bertemu pada September 2019, bersamaan dengan penerapan tarif tambahan 10 persen untuk impor barang-barang China senilai US$300 miliar.


Trump juga yakin China ingin mencapai kesepakatan dan tidak akan melakukan aksi balas dendam. Ia bahkan mengklaim mendapatkan kabar bahwa Presiden China Xi Jinping ingin segera mengatur jadwal temu. 

"September, pertemuan masih berjalan seperti yang saya pahami. Tapi, saya pikir lebih penting daripada September adalah kami berbicara melalui telepon, dan kami melakukan pembicaraan yang sangat produktif," ujarnya dikutip Reuters, Jumat (16/8). 
Trump juga mempertimbangkan menunda penerapan tarif untuk impor barang-barang China senilai US$125 miliar hingga 15 Desember nanti. Barang-barang yang dimaksud, yakni mainan anak, ponsel, laptop, hingga komputer tablet. 

Hong Kong sendiri kini sedang bergolak akibat aksi demonstrasi besar-besaran sejak Juni lalu yang kerap berakhir ricuh.

Rangkaian demonstrasi ini sudah bermula sejak dua bulan lalu. Awalnya, para demonstran menuntut pemerintah membatalkan pembahasan rancangan undang-undang ekstradisi yang memungkinkan tersangka satu kasus diadili di negara lain, termasuk China.

[Gambas:Video CNN]

Para demonstran tak terima karena menganggap sistem peradilan di China kerap kali bias, terutama jika berkaitan dengan Hong Kong sebagai wilayah otonom yang masih dianggap bagian dari daerah kedaulatan Beijing.

Berawal dari penolakan rancangan undang-undang ekstradisi, demonstrasi itu pun berkembang dengan tuntutan untuk membebaskan diri dari China. (has)