Pedemo Hong Kong Bersiap Lumpuhkan Akses Bandara Akhir Pekan

CNN Indonesia
Jumat, 23 Agu 2019 08:38 WIB
Setelah aksi damai minggu lalu, para demonstran di Hong Kong kembali merencanakan aksi besar-besaran untuk melumpuhkan akses menuju bandara pada akhir pekan. Setelah aksi damai minggu lalu, para demonstran di Hong Kong kembali merencanakan aksi besar-besaran untuk melumpuhkan akses menuju bandara pada akhir pekan. (Reuters/Tyrone Siu)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setelah aksi damai minggu lalu, para demonstran di Hong Kong kembali merencanakan aksi besar-besaran untuk melumpuhkan akses menuju bandara pada akhir pekan.

"Pergi ke bandara dengan berbagai cara, termasuk MTR, bus bandara, taksi, mobil dan motor pribadi untuk meningkatkan tekanan pada transportasi bandara," ujar seorang penyelenggara demonstrasi melalui salah satu situs pergerakan yang dikutip Reuters.

Para demonstran optimistis aksi pada akhir pekan ini akan berhasil melihat sebelumnya mereka melumpuhkan bandara lewat unjuk rasa besar-besaran pekan lalu.
Akibat demonstrasi di bandara tersebut, otoritas bandara menghentikan seluruh operasional hingga semua penerbangan dari dan menuju Hong Kong terpaksa dibatalkan.


Namun kemudian, pengadilan Hong Kong menerbitkan perintah yang melarang masyarakat melakukan demonstrasi di bandara dan sekitarnya.

Bandara Internasional Hong Kong merupakan bandara tersibuk kedelapan di dunia yang melayani setidaknya 73 juta penumpang per tahun.
Sebanyak 92 WNI juga sempat terjebak di bandara Hong Kong. Namun, Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, menyatakan puluhan WNI itu telah kembali ke tanah airnya.

Aksi blokade bandara ini dinilai mempengaruhi sebagian sektor perekonomian Hong Kong. Namun, demonstran berkeras bakal tetap berunjuk rasa hingga pemerintah memenuhi tuntutan mereka.

Rangkaian demonstrasi ini sudah bermula sejak dua bulan lalu. Awalnya, para demonstran menuntut pemerintah membatalkan pembahasan rancangan undang-undang ekstradisi yang memungkinkan tersangka satu kasus diadili di negara lain, termasuk China.

[Gambas:Video CNN]

Para demonstran tak terima karena menganggap sistem peradilan di China kerap kali bias, terutama jika berkaitan dengan Hong Kong sebagai wilayah otonom yang masih dianggap bagian dari daerah kedaulatan Beijing.

Berawal dari penolakan rancangan undang-undang ekstradisi, demonstrasi itu pun berkembang dengan tuntutan untuk membebaskan diri dari China. (has/has)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER