Massa 'Rompi Kuning' Prancis Kembali Bentrok dengan Polisi

CNN Indonesia | Minggu, 08/09/2019 05:40 WIB
Massa 'Rompi Kuning' Prancis Kembali Bentrok dengan Polisi Ilustrasi ricuh demonstrasi rompi kuning di Prancis. (REUTERS/Benoit Tessier).
Jakarta, CNN Indonesia -- Massa pengunjuk rasa 'rompi kuning' anti-pemerintah kembali bentrok dengan polisi, kali ini di Kota Montpellier, Prancis, Sabtu (7/9). Bentrokan terjadi di tengah massa yang berusaha menghidupkan kembali momentum baru ke dalam demonstrasi untuk menyerukan keadilan sosial dan penggulingan Presiden Emmanuel Macron.

Gerakan rompi kuning itu dimulai November tahun lalu dan semakin menjadi-jadi selama musim panas tahun ini. Para pemimpinnya berharap dapat menggalang dukungan bagi gelombang baru unjuk rasa di seluruh negeri ketika pemerintah memulai reformasi sistem pensiun Prancis.

Para pejabat di kota selatan Montpellier mengatakan sekitar 2.000 orang berkumpul di pusat kota melakukan unjuk rasa, sedangkan para perwakilan massa menyebutkan jumlahnya mendekati 5.000 orang, mengutip dari AFP, Minggu (8/9).


Selama bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa, petugas menembakkan gas air mata untuk mencoba membubarkan kerumunan. Selain beberapa fasilitas dan etalase rusak, sebuah mobil polisi juga terbakar akibat bom molotov.
Polisi mengatakan tujuh orang telah ditahan. Polisi melakukan penangkapan, terutama karena massa melemparkan benda ke arah polisi. Sedikitnya tujuh polisi terluka.

Jacques Witkowski, gubernur untuk wilayah Herault, yang meliputi Montpellier, mengutuk perilaku sangat agresif dari para demonstran.

Sementara itu unjuk rasa yang lebih kecil juga terjadi di kota-kota lain di sekitar Prancis, termasuk Paris, Marseille, Rouen, Lille, Strasbourg, Dijon, Bordeaux dan Toulouse.

Ada bentrokan di kota utara Rouen, di mana sekitar 500 demonstran muncul, termasuk anggota serikat dagang CGT. Jendela toko dan beberapa di pengadilan kota hancur akibat bentrokan. Polisi menangkap 26 orang dan memperingatkan 111 orang lainnya.
"Kami semua bersama, kami ingin pemerintah mengubah kebijakannya secara drastis dan perubahan radikal hanya bisa terjadi ketika pemerintah ini mengundurkan diri," kata Alexandre Chantry, perwakilan rompi kuning di Lille.

Polisi mengatakan sekitar 800 orang berdemonstrasi di Paris, di mana pihak berwenang telah memberlakukan larangan protes di Champs-Elysees, tempat bentrokan besar selama protes tahun lalu. Petugas mengatakan mereka menangkap 107 orang pengunjuk rasa di ibu kota.

[Gambas:Video CNN] (afp/osc)