Bentrok Perayaan Muharam, India Terapkan Jam Malam di Kashmir

CNN Indonesia | Senin, 09/09/2019 20:01 WIB
Bentrok Perayaan Muharam, India Terapkan Jam Malam di Kashmir Krisis Kashmir di antara India dan Pakistan. (REUTERS/Mukesh Gupta)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pihak berwenang India menerapkan jam malam di sejumlah wilayah di Kashmir menyusul bentrokan yang terjadi antara aparat keamanan dan warga saat perayaan tahun baru Islam atau Muharam.

Sejumlah pejabat lokal melaporkan setidaknya 12 warga dan 6 tentara terluka akibat bentrokan yang berlangsung pada Sabtu (7/9) malam ketika umat Muslim di Kashmir tengah merayakan upacara tradisional bulan Muharam.

Pada Minggu kemarin, sejumlah mobil polisi dengan pengeras suara mengumumkan penerapan jam malam di pusat Kota Srinagar, Lal Chowk, dan sekitarnya.

"Orang-orang disarankan untuk tetap berada di dalam rumah dan tidak keluar," ucap polisi.

Bentrokan terjadi di Rainawari dan Badgam, dua wilayah yang didominasi oleh umat Muslim di Srinagar.

Pawai peringatan tahun baru Islam itu berlangsung sepanjang lima kilometer. Jalur-jalur pawai bahkan telah diblokade pasukan keamanan dengan seragam anti peluru serta helm.

[Gambas:Video CNN]

Bentrokan disebut terjadi ketika aparat keamanan mencoba menghentikan gelaran upacara tersebut.

Dilansir Reuters, sejumlah personel India dilaporkan menggunakan gas air mata dan senjata pelet (pellete guns) pada kerumunan massa yang bersikeras melanjutkan prosesi. 

Seorang pejabat India yang tak ingin diketahui identitasnya menuturkan kerumunan warga pun lantas melempari aparat keamanan dengan batu dan kerikil.

"Bentrokan terus berlanjut hingga tengah malam di mana para personel menembakkan gas air mata dan senjata pelet," kata pejabat tersebut.

Seorang saksi mata yang merupakan warga sekitar, Suhail Ahmed, mengatakan telah terjadi serangkaian bentrokan di Rainawari selama empat hari terakhir lantaran aparat keamanan berupaya menghentikan upacara perayaan Muharam.

"Kami mendengar suara memekakkan gas air mata selama beberapa malam terakhir. Kebanyakan dari kami tinggal di dalam rumah tapi terkadang gas air mata sampai masuk ke rumah sehingga membuat kami sulit tidur," katanya.

Seorang juru bicara Kementerian Dalam Negeri India tak bisa dimintai keterangan terkait insiden itu.

Namun, penasihat keamanan nasional India mengatakan "pembatasan mobilisasi warga yang beralasan dibutuhkan untuk menjaga keamanan dan perdamaian."


Sang penasihat turut menuding Pakistan berupaya menyulut kekerasan di Kashmir, wilayah yang telah lama diperebutkan kedua negara. (rds/dea)