Bangladesh Putus Internet bagi Pengungsi Rohingya

AFP, CNN Indonesia | Rabu, 11/09/2019 02:36 WIB
Bangladesh Putus Internet bagi Pengungsi Rohingya Ilustrasi (ANTARA FOTO/Reno Esnir)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bangladesh memotong akses ke internet 3G dan 4G di kamp-kamp Rohingya, Selasa, (10/9). Langkah ini dilakukan dalam upaya komunikasi lanjutan kepada pengungsi. Sebab, sebelumnya Dhaka gagal dalam upaya memulangkan mereka kembali ke Myanmar.

Padahal kedua negara telah membuat kesepakatan untuk mengembalikan para pengungsi Rohingya ke Rakhine pada November 2017. Namun, tak seorangpun dari 740.000 pengungsi yang kembali ke negara itu. Warga Rohingya ini mengungsi ke Bangladesh setelah terjadi berbagai tindakan keras militer pada Agustus 2017.

Pemerintah telah menginstruksikan operator untuk mematikan jaringan 3G, 4G dan LTE (Long Term Evolution) di daerah kamp Rohingya di Teknaf dan Ukhia, S.M. Farhad, sekretaris jenderal Asosiasi Operator Telekomunikasi Seluler Bangladesh, mengatakan dalam sebuah pernyataan.


Kota-kota perbatasan Teknaf dan Ukhia adalah rumah bagi tiga lusin kamp pengungsi di mana Rohingya tinggal dalam kondisi jorok.

Layanan 2G "akan tetap aktif," tambah Farhad.

Tetapi Abu Saeed Khan, rekan kebijakan senior di think tank LIRNEasia, mengatakan kepada AFP bahwa penutupan "secara efektif berarti penutupan internet. Dengan jaringan 2G, hampir tidak mungkin untuk mengakses (internet)."

Operator telah menghentikan penjualan kartu SIM di sekitar kamp. Mereka juga mematikan koneksi jaringan 3G dan 4G antara 17:00 dan 18:00 waktu setempat.

Regulator telekomunikasi Bangladesh pada 3 September memerintahkan perusahaan telepon untuk sementara waktu memutus akses seluler di kamp-kamp tersebut, dengan alasan keamanan.

Tindakan keras itu mengejutkan para pengungsi dan mengganggu komunikasi antara berbagai kamp dan dengan Rohingya masih di Myanmar.

Kelompok HAM Human Rights Watch (HRW) pada hari Sabtu mendesak pemerintah untuk mengakhiri pembatasan, dengan mengatakan kebijakan ini hanya "memperburuk keadaan".

"Pihak berwenang harus mengambil pendekatan intelektual alih-alih bereaksi berlebihan terhadap ketegangan dan protes dengan mengisolasi para pengungsi Rohingya di kamp-kamp," kata HRW. (eks)