Xi Jinping Coba Sogok Duterte dengan Minyak untuk Abaikan LCS

CNN Indonesia | Jumat, 13/09/2019 10:09 WIB
Xi Jinping Coba Sogok Duterte dengan Minyak untuk Abaikan LCS Presiden Rodrigo Duterte mengaku ditawari Presiden Xi Jinping mengendalikan kesepakatan minyak dengan timbal balik Filipina mengabaikan sengketa di LCS. (Reuters/Erik De Castro)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Rodrigo Duterte mengaku ditawari Presiden Xi Jinping untuk mengendalikan kesepakatan minyak dengan timbal balik Filipina mengabaikan sengketa lahan dengan China di Laut China Selatan.

Duterte mengatakan bahwa Xi secara spesifik meminta Filipina melupakan keputusan Mahkamah Arbitrase Antarabangsa (PCA) yang memenangkan Filipina atas klaim di Laut China Selatan.

"Lupakan keputusan arbitrase itu. Lupakan klaim Anda, kemudian izinkan semua orang berhubungan dengan perusahaan China. Mereka ingin mengeksplorasi dan jika ada sesuatu, kami akan berbaik hati memberikan kalian 60 persen, mereka hanya akan dapat 40 persen. Itu janji Xi Jinping," ujar Duterte.
Duterte sendiri baru saja bertemu dengan Xi Jinping di Beijing pada pekan lalu. Menurut laporan kantor berita Xinhua, setelah pertemuan itu Xi mengatakan bawha kedua negara bisa "mengambil langkah lebih besar" di bidang eksplorasi minyak dan gas.


"Selama kedua belah pihak menanggulangi isu Laut China Selatan dengan baik, atmosfer hubungan bilateral seharusnya baik. Dasar hubungan akan stabil, perdamaian dan stabilitas kawasan juga akan terjamin," tutur Xi seperti dikutip CNN.

Namun, Xi tak menjabarkan lebih lanjut maksud ucapannya. Ketika ditanya soal klaim Duterte, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hua Chunying, hanya mengatakan, "[Filipina] siap mengekspedisi kerja sama dengan China di bidang eksploitasi gabungan minyak dan gas."

"Kedua belah pihak mengumumkan komite gabungan antarpemerintah dan kelompok kerja antara perusahaan-perusahaan relevan dari kedua negara di bidang kerja sama minyak dan gas," katanya.
Dalam pertemuan tersebut, Duterte sendiri tetap menekankan bahwa keputusan PCA itu sudah final dan tidak dapat diganggu gugat.

Dengan demikian, masalah sengketa wilayah antara China dan Filipina di Laut China Selatan kembali terkatung-katung.

China memang mengklaim hampir 90 persen wilayah di Laut China Selatan yang tumpang tindih dengan daerah kekuasaan negara lain, termasuk Filipina.

Filipina di bawah komando pendahulu Duterte, Benigno Aquino, lantas mengajukan tuntutan ke PCA atas klaim China di LCS tersebut.

[Gambas:Video CNN]

PCA akhirnya memenangkan Filipina dalam kasus ini melalui keputusan yang diumumkan pada 2016, tak lama setelah Duterte dilantik. China menolak keputusan tersebut, bahkan tidak menganggap keberadaan PCA.

Di awal masa pemerintahannya, Duterte mengubah haluan negaranya menjauh dari Amerika Serikat dan mendekatkan diri ke China. Pada 2016, Duterte pun tak terlalu mempermasalahkan penolakan China.

Namun belakangan, Duterte mulai menunjukkan gelagat menjauh dari China dengan menantang berbagai keputusan Beijing di LCS. (has/has)