Pemilu Israel Deadlock, Netanyahu Batal Hadir di Sidang PBB

CNN Indonesia | Kamis, 19/09/2019 10:49 WIB
Pemilu Israel Deadlock, Netanyahu Batal Hadir di Sidang PBB Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. (REUTERS/Dan Balilty)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membatalkan rencana kunjungannya untuk menghadiri rapat Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pekan ini.

Pembatalan lawatan itu diungkap salah satu sumber kepada AFP. Netanyahu dikabarkan membatalkan kunjungan ke New York lantaran "situasi politik" di Israel, di mana hasil penghitungan suara pemilihan umum sementara menunjukkan partainya, Likud, kalah tipis dari rival terberatnya, Koalisi Biru dan Putih yang dipimpin Benny Gantz, eks panglima militer.

Berdasarkan penghitungan lebih dari 95 persen suara yang sudah masuk, Netanyahu dan partainya, Likud, hanya meraup 32 kursi dari total 120 kursi parlemen. Sementara itu, Gantz, eks panglima militer Israel, mendapat 33 kursi.


Meski Gantz unggul tipis dari Netanyahu, hasil tersebut belum bisa memberikan Koalisi Biru dan Putih jalan yang jelas untuk membentuk pemerintahan baru.


Jika hasil tersebut bertahan hingga penghitungan 100 persen suara, maka itu akan menjadi kemunduran besar bagi Netanyahu yang telah menjabat sebagai PM selama empat periode.

Hasil imbang ini juga memicu kemungkinan parlemen menggelar "penyatuan pemerintah" yang akan menggabungkan partai Netanyahu, Gantz, dan sejumlah partai lainnya dalam pemerintahan.

Netanyahu memperingatkan warga Israel jika dia kalah pemilu, Israel berisiko dipimpin oleh pemerintah berbahaya yang bergantung pada partai Arab.

Dalam kampanyenya, Netanyahu memperingatkan bahwa banyak pemilih berhaluan kiri dan berasal dari bangsa Arab ikut pemilu kali ini untuk mencoba menggulingkannya.

[Gambas:Video CNN]

"Hanya ada dua pilihan, pemerintah yang dipimpin oleh saya atau oleh pemerintahan berbahaya yang bergantung pada partai-partai Arab itu," kata Netanyahu dalam jumpa pers di Yerusalem pada Rabu (18/9) malam seperti dikutip AFP.

"Di masa-masa ini, lebih dari masa sebelumnya, kita menghadapi tantangan keamanan dan politik yang sangat besar dan jangan sampai ada pemerintah yang bergantung pada partai-partai Arab anti-Zionis (berkuasa saat ini)."


Sementara itu, sang rival terberat, Gantz, menyerukan "penyatuan pemerintah yang luas". Meski begitu, Gantz tetap memperingatkan untuk menunggu hasil penghitungan suara pemilu benar-benar rampung.

"Kami akan bertindak untuk membentuk penyatuan pemerintah secara luas yang akan mengekspresikan kehendak rakyat. Kami akan emmulai negosiasi dan saya akan berbicara dengan semua pihak," kata Gantz.

Lebih dari empat juta warga Israel menyumbangkan suaranya di 11 ribu tempat pemungutan suara (TPS) yang tersebar di seluruh negeri pada Selasa (17/9).


Media lokal mengatakan Daftar Aliansi Gabungan Arab menjadi blok ketiga terbesar dalam parlemen Israel atau Knesset saat ini dengan menduduki 13 kursi. Sementara itu, total ada 11 partai yang duduk di parlemen.

"Era Netanyahu telah berakhir. Jika Gantz memanggil, kami harus memberitahunya terkait posisi kita untuk mendukungnya," kata Ahmed Tibi, salah satu pemimpin Daftar Aliansi Gabungan Arab itu. (rds/dea)