AS Tak Keluarkan Visa, Presiden Iran Bisa Absen di Sidang PBB

CNN Indonesia | Kamis, 19/09/2019 08:02 WIB
AS Tak Keluarkan Visa, Presiden Iran Bisa Absen di Sidang PBB Presiden Iran Hassan Rouhani. (REUTERS/Carlo Allegri)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Iran Hassan Rouhani kemungkinan besar tidak akan hadir di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, pekan ini karena Amerika Serikat tak kunjung mengeluarkan visa.

Kantor berita IRNA melaporkan, rencananya Rouhani dan rombongan akan melakukan perjalanan ke New York pada Jumat pagi.

"Jika visa tidak dikeluarkan dalam beberapa jam, perjalanan ini mungkin akan dibatalkan," demikian bunyi laporan kantor berita negara IRNA dikutip AFP.



Dalam rombongan, sejumlah delegasi turut diboyong Rouhani, termasuk Menlu Mohammad Javad Zarif, diplomat yang menentang dan dijatuhkan sanksi oleh AS.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menolak berkomentar soal ini. Namun dia mengisyaratkan setuju atas penolakan visa Iran.

"Kami tidak berbicara tentang pemberian atau tidak adanya pemberian visa," kata Pompeo. "Jika Anda terhubung dengan organisasi teroris asing, saya tidak tahu," ujarnya.

"Menurut saya itu akan menjadi alasan berpikir apakah mereka harus diizinkan untuk menghadiri pertemuan yang membahas perdamaian."

[Gambas:Video CNN]

Sebagai tuan rumah, AS seharusnya mengeluarkan visa untuk para diplomat anggota PBB.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres turun tangan untuk mengatasi masalah ini. PBB telah melakukan kontak dengan AS, dan dia berharap seluruh delegasi bisa mendapatkan visa.

"Kami telah melakukan kontak dengan tuan rumah untuk menyelesaikan masalah visa untuk para delegasi," katanya.


Absennya Rouhani akan mengandaskan upaya Prancis untuk memfasilitasi pertemuan antara pemimpin Iran dan Presiden AS Donald Trump. Pertemuan antara Rouhani dan Trump sengaja digagas untuk meredakan tensi dan sebagai upaya Eropa menyelamatkan perjanjian nuklir.

Iran dan Amerika Serikat telah berselisih sejak Mei tahun lalu ketika Trump menarik diri dari perjanjian nuklir 2015 dan kembali menerapkan sanksi terhadap Teheran.

Iran bertekad bakal terus melakukan pengayaan uranium jika negara-negara lain yang menandatangani perjanjian itu tak berbuat apa pun untuk melawan AS. Sejak saat itu, tensi antara Iran dan AS terus meningkat dengan isu pengerahan militer hingga uji coba rudal Teheran.


AS juga menuding Iran berada di balik serangan ke kilang minyak terbesar dunia di Arab Saudi pekan lalu. Trump pun mengisyaratkan AS siap merespons serangan drone yang dikabarkan memangkas setengah produksi minyak Saudi itu.

Namun Rouhani membantah Iran berada di balik serangan itu. Dia mengatakan kelompok pemberontak di Yaman, Houthi, menyerang kilang minyak terbesar di Arab Saudi sebagai bentuk peringatan. (dea)