Eks Bos PLN Jepang Dibebaskan dari Dakwaan terkait Fukushima

CNN Indonesia | Kamis, 19/09/2019 20:58 WIB
Eks Bos PLN Jepang Dibebaskan dari Dakwaan terkait Fukushima Ilustrasi. (Istockphoto/Wavebreakmedia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengadilan Jepang membebaskan tiga mantan pejabat perusahaan listrik pelat merah, Tokyo Electric Power Company (TEPCO), dari seluruh dakwaan terkait bencana nuklir terburuk di Fukushima pada 2011 lalu.

Tiga eks pejabat TEPCO itu telah didakwa lima tahun penjara karena diduga melakukan kelalaian profesional yang mengakibatkan kematian dan cedera.

Ketiganya merupakan mantan ketua TEPCO, Tsunehisa Katsumata, eks wakil presiden TEPCO Sakae Muto, dan Ichiro Takekuro. Hanya mereka yang menghadapi tuntutan pidana atas bencana nuklir Fukushima.
Mereka dituntut akibat kematian sedikitnya 40 orang di situs PLTN tersebut pasca-gempa dan tsunami. Jaksa berargumen Katsumata, Muto, dan Takekuro, tahu risiko yang dihadapi PLTN akibat tsunami di daerah tersebut.


Ketiganya disebut lalai karena gagal mengambil langkah keamanan yang lebih baik dalam merespons bencana tersebut.

Jaksa penuntut telah dua kali menolak melanjutkan kasus terhadap ketiga eksekutif TEPCO ini dengan alasan minim bukti.
Namun, panel peninjau yang terdiri dari warga sipil memutuskan bahwa mantan pejabat TEPCO tersebut harus menghadapi persidangan.

Dikutip AFP pada Kamis (19/9), pengadilan berencana menjelaskan alasan pembebasan ketiga pejabat itu kepada publik dalam waktu dekat.

Puluhan warga Fukushima menggelar unjuk rasa di beberapa area di wilayah itu sebelum sesi persidangan dimulai. Mereka mengaku terkejut atas keputusan hakim hari ini.

[Gambas:Video CNN]
"Saya tidak bisa menerima ini," kata seorang perempuan melalui pengeras suara di tengah massa.

Pada Maret 2011, gempa bumi berkekuatan 9 skala Richter dan tsunami mengakibatkan kebocoran pembangkit listrik tenaga nuklir TEPCO, Fukushima Dai-ichi, yang mencakup kota Okuma dan Futaba di pantai Pasifik.

Lebih dari 160 ribu orang mengungsi akibat bencana nuklir terburuk dalam seperempat abad terakhir. Kejadian itu dianggap sebagai bencana nuklir kedua terbesar setelah kebocoran reaktor nuklir Chernobyl pada 1986 di Pripyat, Ukraina, ketika masih menjadi bagian dari Uni Soviet. (rds/has)