Agen Perjalanan Inggris Bangkrut, 140 Ribu Turis Terlantar

CNN Indonesia | Senin, 23/09/2019 20:18 WIB
Agen Perjalanan Inggris Bangkrut, 140 Ribu Turis Terlantar Ilustrasi. (AP Photo/Kin Cheung)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekitar 140 ribu turis terlantar karena agen perjalanan raksasa asal Inggris, Thomas Cook, bangkrut setelah gagal mendapatkan pinjaman untuk membayar utang perusahaan.

Dikutip AFP, perusahaan menyatakan mereka "tidak dapat menjamin" perjalanan para kliennya mulai hari ini, Senin (23/9).

Sekitar 50 ribu wisatawan terdampar di Yunani, terutama di sejumlah pulau resor seperti Pulau Zakynthos, Kos, Corfu, Skiathos, dan Kreta. Dikutip Reuters, sebagian besar turis tersebut merupakan warga negara Inggris.
Menteri Pariwisata Yunani, Harry Theoharis, menuturkan pemerintah Inggris telah menggelar operasi pemulangan bagi para warganya yang tengah berpergian dan terdampar di luar negeri akibat hal ini.


"Ada sekitar 50 ribu turis (yang terlantar) dan telah ada misi penyelamatan, misi pemulangan yang tengah dilakukan. Kami terus membantu sebisa dan sebanyak mungkin," kata Theoharis.

Ia mengatakan pihak berwenang Yunani juga telah memesan penerbangan tambahan yang akan berangkat dari Bandara Internasional Yunani untuk memastikan para turis asing bisa pulang ke negara asalnya.
Saat ini, terdapat sekitar 600 ribu turis yang sedang berlibur dan menggunakan jasa Thomas Cook. Turis-turis itu akan dipulangkan Otoritas Penerbangan Sipil Inggris (CAA) dengan bantuan perusahaan asuransi.

Thomas Cook menyatakan bangkrut setelah gagal mendapat pinjaman. Perusahaan terpaksa gulung tikar karena terlilit utang hingga 1,7 miliar poundsterling.

Fosun, perusahaan asal China yang menjadi pemegang saham terbesar Thomas Cook, sepakat memberi dana bantuan sebesar 450 juta poundsterling pada bulan lalu.

[Gambas:Video CNN]
Sebagai imbalannya, Fosun mengakuisisi 75 persen saham di divisi operasi tur Thomas Cook dan 25 persen dari unit maskapai penerbangannya. Meski demikian, dana segar tersebut tetap tidak mampu menyelamatkan Thomas Cook.

"Meskipun telah disepakati sebagian besar, fasilitas tambahan yang diminta dalam beberapa hari terakhir, perundingan menemui tantangan yang akhirnya terbukti tidak dapat diatasi," kata Kepala Eksekutif Thomas Cook, Peter Fankhauser. (rds/has)