Israel Tolak Izin Tim Gaza, Laga Final Piala Palestina Batal

CNN Indonesia | Kamis, 26/09/2019 10:48 WIB
Israel Tolak Izin Tim Gaza, Laga Final Piala Palestina Batal Ilustrasi pertandingan sepakbola di Jalur Gaza, Palestina. (REUTERS/Dylan Martinez)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pertandingan final kejuaraan sepakbola Piala Palestina (Palestine Cup), yang seharusnya diselenggarakan di Tepi Barat dibatalkan. Penyebabnya adalah pemerintah Israel menolak memberikan izin perjalanan bagi tim dari Jalur Gaza.

Dilansir Reuters, Kamis (26/9), pihak penghubung militer Israel dengan Palestina (COGAT) tidak mengizinkan para pemain dari klub sepak bola Khadamat Rafah di Jalur Gaza untuk bertanding dengan FC Balata di Nablus, Tepi Barat.


COGAT tidak merinci alasan penolakan tersebut. Berdasarkan laporan beberapa media setempat, aparat keamanan Israel menyatakan alasan penolakan izin tersebut dikarenakan dugaan keterkaitan beberapa pemain dengan aksi terorisme.


Tim tersebut menyatakan bahwa dari 35 anggota yang mengajukan izin perjalanan, hanya 12 orang yang disetujui, termasuk lima pemain yang akan bertanding.

"Rasanya cukup mengecewakan setelah berlatih sangat keras," kata salah satu pemain yang izinnya ditolak, Ahmad Abu Thuhair.

Pembatalan pertandingan tersebut memengaruhi pada keputusan terhadap pemenang kejuaraan, yang akan lanjut bertanding sebagai perwakilan Palestina di Liga Juara Asia. Jika lolos, tim dari Palestina bakal berlaga di kejuaraan Piala Dunia Klub FIFA.

Kejadian ini bukan yang pertama kali dialami Khadamat Rafah. Pada Juli lalu, klub itu juga pernah mengajukan izin perjalanan kepada Israel, tetapi seluruhnya ditolak.


Pertandingan itu kemudian ditunda. Pada Senin (23/9) lalu, pengadilan Israel membahas putusan dari COGAT terkait penolakan izin perjalanan para pemain asal Palestina tersebut.

"Setiap permohonan izin diterima oleh COGAT akan dievaluasi secara individual dan mendalam, kemudian akan disesuaikan dengan kriteria yang telah dirilis dalam situs milik COGAT dan harus melalui pemeriksaan keamanan," tulis COGAT dalam sebuah surel tanpa memberikan lebih banyak detil.

Terkait hal tersebut, Badan Intelijen Dalam Negeri Israel, Shin Bet, tidak menanggapi permintaan untuk memberikan pernyataan.

Kepala asosiasi anggota FIFA Palestina, Jibril Rajoub, menuduh bahwa Israel mencoba untuk melumpuhkan pemain bahkan sistem olahraga Palestina secara umum.

Gisha, kelompok hak asasi manusia Israel yang meluncurkan petisi keberatan terhadap keputusan COGAT ke Pengadilan Negeri Yerusalem, menyatakan bahwa kasus tersebut menggambarkan apa yang disebut sebagai "kebijakan pemisahan", yang dapat membahayakan hak warga Palestina.

[Gambas:Video CNN]

Israel merebut Jalur Gaza dan Tepi Barat pada 1967. Kemudian pada 2005 Israel membubarkan penduduk dan tentara dari Gaza, sehingga wilayah tersebut kini dikuasai oleh kelompok Hamas.

Israel memutuskan untuk memperketat pengamanan di darat dan perbatasan laut Gaza seiring dengan kekhawatiran akan keamanan di wilayah tersebut. (fls/ayp)