Pemimpin Hong Kong Dicaci Habis Saat Gelar Dialog Terbuka

CNN Indonesia | Jumat, 27/09/2019 17:11 WIB
Pemimpin Hong Kong Dicaci Habis Saat Gelar Dialog Terbuka Pemimpin Hong Kong, Carrie Lam. (AFP Photo/Anthony Wallace)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemimpin Hong Kong, Carrie Lam, kemarin menggelar dialog terbuka dengan 150 perwakilan penduduk setempat. Namun, dia dicaci habis-habisan dan hanya mengangguk mendengar kritikan sejumlah warganya.

Seperti dikutip dari Reuters, Jumat (27/9), panitia membatasi warga yang boleh bertanya hanya 30 orang. Dalam kegiatan yang digelar di Stadion Hong Kong, 24 orang mencecar Lam.

Sejumlah warga mengkritik Lam terkait dengan kebijakan membatalkan pemilihan umum, menuduhnya mengabaikan aspirasi penduduk, dan menolak mengusut dugaan kekerasan yang dilakukan polisi.


"Polisi saat ini menjadi alat politik pemerintah dan tidak ada cara untuk mengusut penyalahgunaan kewenangan yang dilakukan polisi," kata seorang penduduk di dalam kegiatan dialog.


"Semua orang sudah tidak percaya kepada polisi," kata seorang peserta perempuan menimpali.

Seorang peserta bahkan secara langsung meminta Lam mundur saat itu juga karena dianggap sudah tidak layak untuk memimpin.

"Anda mengatakan ingin mendengar suara rakyat, tetapi rakyat sudah menyuarakan tuntutan mereka selama tiga bulan," ujar seorang peserta lelaki.

Lam irit bicara dalam kegiatan itu. Dia lebih banyak mengangguk dan menulis aspirasi warga di sebuah lembar catatan yang dibawa.

Lam kemudian menyatakan dia meminta penduduk setempat memberi kesempatan kepada pemerintah.

"Saya harap Anda semua memahami bahwa kita semua masih peduli terhadap Hong Kong. Kita akan tetap merawat masyarakat," kata Lam.

Lam tetap menolak tuntutan untuk membuka penyelidikan dugaan kekerasan yang dilakukan polisi kepada para pengunjuk rasa. Sebab menurut dia mekanisme pengaduan yang dilakukan oleh kepolisian setempat masih memadai.

[Gambas:Video CNN]

Demo HUT RRC

Para aktivis Hong Kong sudah berencana menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran mulai akhir pekan ini sampai 1 Oktober mendatang. Sebab pada saat itu China merayakan ulang tahun ke-70.

Aparat memberi izin warga untuk berkumpul pada Sabtu (28/9) pagi di Taman Tamar di dekat gedung Majelis Legislatif Hong Kong. Gedung itu pernah diserbu demonstran beberapa waktu lalu.

Sedangkan pada Minggu (29/9) mendatang mereka akan berunjuk rasa menyambut Hari Anti-Totaliarianisme Global. Demo itu juga digelar serentak di sejumlah kota di dunia yakni Paris, Berlin, Taipei, New York, Kiev dan London.

Para pengunjuk rasa menyatakan mereka berencana melakukan aksi unjuk rasa seharian penuh pada 1 Oktober mendatang. Padahal pemerintah China sudah menyiagakan aparat dan pasukan anti huru-hara di dekat Hong Kong.

Para aktivis Hong Kong sudah belajar dari gerakan pada 2014 lalu. Kini, gerakan mereka tidak bertumpu hanya kepada sejumlah tokoh dan lebih memilih gerakan sporadis tetapi terarah.


Mereka menggunakan jejaring media sosial untuk melakukan konsolidasi, komunikasi dan menyebarkan tuntutan.

Berawal dari penolakan RUU ekstradisi, demonstrasi itu pun berkembang hingga menggaungkan tuntutan agar Lam mundur dan melepaskan Hong Kong dari China.

Meski Lam sudah menyatakan bakal membatalkan RUU ekstradisi, para demonstran tetap mendesak agar tuntutan mereka dipenuhi.

Hampir setiap hari, mereka menggelar unjuk rasa yang tak jarang berujung ricuh. Hingga kini, terhitung 1.500 orang ditangkap dan diadili. (ayp)