Pelaku Penembakan Masjid Selandia Baru Tersenyum Saat Sidang

CNN Indonesia | Kamis, 03/10/2019 15:44 WIB
Pelaku Penembakan Masjid Selandia Baru Tersenyum Saat Sidang Proses pemakaman korban penembakan masjid di Selandia Baru. (AP Photo/Mark Baker)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sidang putusan sela terdakwa teror penembakan dua masjid di Christchurch, Selandia BaruBrenton Harrison Tarrant (28), kembali dilanjutkan pada hari ini, Kamis (3/10). Sejumlah pengunjung sidang menyatakan geram karena melihat Tarrant masih bisa tersenyum melalui telekonferensi.

Agenda sidang putusan sela pada hari ini mendengarkan keputusan hakim soal permohonan pemindahan lokasi sidang yang diajukan Tarrant. Namun, terdakwa justru membatalkan niatnya dan hakim menyatakan proses peradilan akan tetap digelar di Christchurch.


Sidang Tarrant dilakukan dengan cara telekonferensi. Dia sengaja ditempatkan di penjara tingkat keamanan tinggi hingga pembacaan vonis.


Sejumlah pengunjung yang hadir dalam sidang kemarin menyatakan mereka melihat melalui monitor bahwa Tarrant sesekali tersenyum dan bahkan mengedipkan mata. Dia bahkan terlihat sempat ingin meneriakkan sesuatu.

Akan tetapi, pengadilan memutuskan menurunkan volume monitor hingga suara Tarrant tidak terdengar. Namun, dia bisa mendengar suara hakim dan jaksa.

Salah satu korban yang juga hadir dalam sidang kemarin, Wasseim Alsati, menyatakan Tarrant mencoba memanipulasi dan mengejek proses peradilan dengan menyatakan diri tidak bersalah.

[Gambas:Video CNN]

"Dia terlihat tertawa, tersenyum, dan tidak menghormati proses sidang atau hakim. Ini adalah perangai buruk. Sangat tidak bisa diterima," kata Alsati.

Sejumlah kaum Muslim dan penduduk Christchurch mulanya sempat khawatir jika hakim memutuskan mengabulkan permintaan pemindahan lokasi sidang ke Auckland. Sebab, itu artinya mereka harus mengeluarkan ongkos lebih untuk bolak-balik menyaksikan persidangan.

Apalagi jarak Auckland dan Christchurch terpaut 765 kilometer.

Kuasa hukum Tarrant menyatakan cemas sidang tidak akan berjalan adil untuk kliennya jika juri yang dipilih seluruhnya berasal dari Christchurch.

Dia khawatir kejadian itu akan membuat juri sudah mempunyai opini tentang Tarrant dan aksinya. Namun, sidang itu hanya berlangsung sepuluh menit karena kuasa hukum Tarrant tidak memaparkan alasan pemindahan lokasi sidang.


Hakim menyatakan sidang pemeriksaan bukti dan saksi akan digelar pada Juni 2020 mendatang. (ayp/ayp)