Sidang Peneror Masjid Selandia Baru Digeser Hindari Ramadan

CNN Indonesia | Kamis, 12/09/2019 19:18 WIB
Sidang Peneror Masjid Selandia Baru Digeser Hindari Ramadan Ilustrasi pelaku teror masjid di Selandia Baru, Brenton Harrison Tarrant. (Mark Mitchell/New Zealand Herald/Pool via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengadilan Selandia Baru memutuskan menggeser proses persidangan terdakwa teror masjid di Kota Christchurch, Brenton Harrison Tarrant, selama sebulan. Penyebabnya adalah jadwal semula bertepatan dengan bulan suci Ramadan.

Hakim Pengadilan Tinggi Selandia Baru, Cameron Mander, mengatakan sidang Tarrant semula dijadwalkan berlangsung pada 4 Mei 2020. Namun, ia menuturkan pengadilan "kesulitan menata jadwal persidangan karena bentrok dengan bulan suci Ramadan yang terjadi selama Mei tahun depan."


"Sementara itu sejumlah saksi yang dipanggil dalam persidangan merupakan umat Muslim," kata Mander melalui sebuah pernyataan pada Kamis (12/9).


Mander menuturkan persidangan akan kembali digelar pada 2 Juni mendatang. Dilansir Reuters, kuasa hukum Tarrant sepakat untuk menunda sidang tersebut.

Tarrant yang mengaku penganut paham supremasi kulit putih melakukan aksi kejamnya dengan memberondong jamaah di dua masjid di Christchurch dengan senjata api pada 15 Maret lalu.

Aksi keji Tarrant itu berlangsung ketika jamaah masjid baru selesai melaksanakan salat Jumat. Sebanyak 42 orang tewas akibat penembakan di dua masjid tersebut, termasuk seorang warga Indonesia.


Tarrant merupakan warga Australia. Dia sempat menyiarkan aksi penembakan massal itu secara langsung di akun Facebooknya.

Video tragis itu pun sempat dilihat oleh setidaknya 4.000 kali sebelum diblokir. Pria 29 tahun itu juga sempat mengunggah manifesto untuk menjelaskan motifnya melakukan teror dalam akun media sosialnya.

Dalam manifestonya berjudul "The Great Replacement" itu, Tarrant mengaku ingin menyerang umat Muslim untuk "menciptakan ketakutan dan menghasut kekerasan terhadap umat Muslim."

[Gambas:Video CNN]

Tarrant pertama kali disidang pada 16 Maret lalu, sehari setelah penembakan terjadi. Persidangan keduanya berlangsung pada awal April lalu melalui telekonferensi dari penjara dengan keamanan maksimum di Auckland. (rds/ayp)