Abiy Ahmed, Mantan Intel Peraih Nobel

CNN Indonesia | Jumat, 11/10/2019 20:21 WIB
Abiy Ahmed, Mantan Intel Peraih Nobel Perdana Menteri Ethiopia, Abiy Ahmed. (Ludovic MARIN / POOL / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Anugerah Nobel Perdamaian 2019 diraih oleh Perdana Menteri Ethiopia, Abiy Ahmed. Komite Nobel menganggap dia adalah tokoh politik yang berhasil meredam konflik berdarah terkait sengketa perbatasan dengan Eritrea yang telah berlangsung selama dua dekade.

Seperti dikutip CNNIndonesia.com dari berbagai sumber, Abiy lahir pada 15 Agustus 1976. Ayahnya adalah seorang etnis Oromo beragama Islam bernama Ahmed Ali, dan ibunya, Tezeta Wolde, berasal dari etnis Amhara yang memeluk Kristen Orthodox.


Nama kecilnya adalah Abiyot yang berarti revolusi. Sebab ayahnya terinspirasi Revolusi Derg pada 1974, yang membuat Ethiopia dipimpin rezim junta beraliran Marxis-Leninis hingga 1984.


Setelah beranjak menjadi pemuda, Abiy memutuskan angkat senjata dan berjuang bersama Partai Demokratik Oromo (ODP) melawan junta yang dipimpin Mengistu Haile Mariam.

Karena kemampuannya dalam berbahasa etnis Tigranya yang menjadi inti pasukan pemberontak, karir militernya lantas moncer. Setelah rezim junta kalah, Abiy memutuskan mengikuti pendidikan militer formal.

Abiy lantas berdinas di Angkatan Darat dan kemudian ditempatkan di kesatuan intelijen. Dia juga terlibat dalam misi Pasukan Perdamaian Perserikatan Bangsa-bangsa untuk Rwanda (UNAMIR) setelah insiden pembantaian etnis di negara itu pada 1995.

[Gambas:Video CNN]

Tiga tahun kemudian, Abiy terlibat dalam perang antara Eritrea dan Ethiopia hingga 2000. Tugasnya adalah mengidentifikasi posisi pasukan Eritrea.

Setelah itu, Abiy dipanggil pulang untuk bertugas di kampung halamannya di Beshasha, yang saat itu tengah dirundung pertikaian antarpemeluk agama Islam dan Kristen. Konflik itu merenggut korban jiwa.

Abiy lantas meredam konflik itu dengan cara membentuk jejaring dialog antarumat beragama dan mendekati para sesepuh ulama dan pendeta setempat. Alhasil, konflik itu berangsur-angsur mereda.

Pada 2008, Abiy kemudian mendirikan lembaga Agensi Jaringan Informasi Keamanan Ethiopia (INSA). Namun, dua tahun kemudian dia memutuskan melepas jabatannya dan terjun ke politik.


Abiy memulai karir politik dengan menjadi anggota parlemen. Pada 2015, dia ditunjuk menjadi Menteri Sains dan Teknologi, dan ikut turun tangan memerangi pencaplokan tanah.

Pada April 2018, Abiy terpilih menjadi Perdana Menteri Ethiopia mengalahkan pesaing terdekatnya, Demeke Mekonnen. Demeke lantas diangkat menjadi wakil perdana menteri.

Saat menjabat, Abiy mengambil langkah mengejutkan dengan melakukan perjanjian damai dengan Eritrea. Dia juga memutuskan membebaskan ribuan tahanan politik.

Dia juga meminta sejumlah warga dan entitas Ethiopia yang diburu akibat aktivitas politik di masa lalu supaya kembali. Abiy lantas mengajukan usul kepada parlemen untuk merancang revisi sistem negara bagian berdasarkan etnis, yang selama ini membuat perselisihan antarsuku sangat tajam di Ethiopia.


Di bidang ekonomi, Abiy menerapkan kebijakan yang liberal. Yakni menjual saham sejumlah perusahaan negara kepada pihak swasta.

Walau demikian, kondisi internal Ethiopia masih bergejolak sampai saat ini. Pemicunya adalah sentimen antaretnis yang tetap tinggi. (ayp/ayp)