Putin Undang Erdogan ke Rusia di Tengah Kisruh Kurdi Suriah

CNN Indonesia | Kamis, 17/10/2019 00:26 WIB
Putin Undang Erdogan ke Rusia di Tengah Kisruh Kurdi Suriah Presiden Vladimir Putin mengundang Presiden Recep Tayyip Erdogan ke Rusia ketika Turki sedang menjadi sorotan karena menggempur pasukan Kurdi di utara Suriah. (AFP Photo/Pavel Golovkin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Vladimir Putin mengundang Presiden Recep Tayyip Erdogan ke Rusia ketika Turki sedang menjadi sorotan karena menggempur pasukan Kurdi di kawasan utara Suriah.

"[Putin mengundang Erdogan] untuk kunjungan kerja dalam beberapa hari ke depan. Undangan itu sudah diterima," demikian pernyataan kantor Putin yang dikutip AFP, Selasa (15/9).

Menurut kantor kepresidenan Rusia tersebut, Putin menyampaikan undangan ini langsung ketika berbincang dengan Erdogan melalui telepon.
Dalam komunikasi tersebut, kedua pemimpin itu menekankan "kepentingan untuk menghindari konfrontasi antara unit-unit tentara Turki dan pasukan bersenjata Suriah."


Namun, Putin menyatakan dukungannya terhadap upaya Turki untuk menggempur pasukan Kurdi yang mereka anggap sebagai teroris.

Putin mengatakan bahwa, "teroris berupaya kabur dan menyusup ke negara-negara tetangga."
Erdogan sendiri sudah menyatakan bahwa Turki tidak akan mendeklarasikan gencatan senjata meski Amerika Serikat sudah mendesak agar mereka menghentikan gempuran ke utara Suriah.

"Mereka menyuruh kami mendeklarasikan gencatan senjata. Kami tidak akan mendeklarasikan gencatan senjata," ujar Erdogan sebagaimana dikutip Hurriyet.

Pernyataan ini dilontarkan ketika Wakil Presiden AS, Mike Pence, bersama Menteri Luar Negeri Mike Pompeo bersiap bertolak ke Turki untuk mendesak pendeklarasian gencatan senjata di utara Suriah.

[Gambas:Video CNN]
Pence dijadwalkan bertemu dengan Erdogan pada Kamis (16/10), di mana AS akan melontarkan ancaman "sanksi ekonomi" terhadap Turki sampai resolusi tercapai.

Namun, Erdogan menyatakan bahwa Turki tidak akan bisa menghentikan perlawanan di utara Suriah selama Kurdi yang mereka anggap sebagai teroris masih berkeliaran di daerah perbatasan negara mereka.

"Mereka menekan kami untuk menghentikan operasi tersebut. Kami punya target yang jelas. Kami tidak takut dengan sanksi," tutur Erdogan. (has/has)