Bunuh Korban Pelecehan Seks, 16 WN Bangladesh Divonis Mati

CNN Indonesia | Kamis, 24/10/2019 23:31 WIB
Bunuh Korban Pelecehan Seks, 16 WN Bangladesh Divonis Mati Ilustrasi pengadilan. (Istockphoto/Wavebreakmedia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengadilan Kota Feni menjatuhkan hukuman mati terhadap 16 orang terdakwa pembunuhan seorang siswi yang dibakar hidup-hidup. Alasannya adalah siswi itu menolak mencabut laporan kekerasan seksual yang dia alami di sebuah madrasah di Sonagazi, Bangladesh.

Dikutip AFP, Kamis (24/10), para pelaku dilaporkan menyiram bensin kepada korban bernama Nusrat Jahan Rafi dan membakarnya dalam keadaan hidup-hidup.


Para pelaku yang terjerat kasus itu meliputi seorang kepala madrasah beserta beberapa aktivis dari partai Liga Awami, dan beberapa siswa yang terlibat dalam pembunuhan maupun dalam menjaga situasi.


Kepala madrasah yang menjadi otak dari pembunuhan berencana tersebut merencanakan pembunuhan itu ketika masih dipenjara akibat kasus kekerasan seksual yang dilaporkan korban.

Menurut jaksa Hafez Ahmed, putusan itu menunjukkan bahwa pelaku kejahatan di Bangladesh tidak dapat lolos dari jeratan hukum.

"Putusan itu membuktikan tidak ada orang yang bisa kabur dari kasus pembunuhan di Bangladesh. Kami punya aturan hukum," katanya setelah pembacaan putusan.

Kejadian itu bermula ketika Rafi melaporkan terhadap kasus kekerasan seksual yang ia alami pada akhir Maret lalu. Sebuah rekaman video menunjukkan bahwa polisi sempat mengabaikan laporan korban.

[Gambas:Video CNN]

Lalu pada 6 April, para pelaku membujuk Rafi untuk datang ke atap gedung. Di sana, mereka memaksa korban mencabut laporan kekerasan seksual yang dilakukan kepala sekolah tersebut.

Korban menolak tuntutan itu sehingga para pelaku langsung mengikat korban, menyiram bensin dan membakarnya. Kemudian korban dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.

Meski begitu nyawanya tidak tertolong setelah dirawat selama empat hari akibat luka bakar sebesar 80 persen pada sekujur tubuhnya.

Kepolisian mulai melakukan investigasi setelah kematian korban, dan hasilnya menunjukkan bahwa para pelaku telah merencanakan pembunuhan itu seolah-olah Rafi bunuh diri. Namun, rencana itu gagal karena Rafi berusaha menuruni tangga dalam keadaan masih terbakar.

Kasus ini telah memicu reaksi masyarakat hingga terjadi demonstrasi di Dhaka selama berhari-hari. Demonstran menuntut agar pelaku dijatuhi hukuman yang pantas bagi para pelaku.


"Ini adalah hukuman yang pantas. Kami berharap ini dapat menjadi pesan yang serius kepada para pelaku dan orang-orang yang terlibat dalam kekerasan seksual," kata kepala kelompok pejuang hak perempuan, Maleka Banu.

Tidak hanya hukuman, masyarakat juga menekan Perdana Menteri, Sheikh Hasina, agar dapat melakukan upaya perlindungan terhadap perempuan.

Akibat kasus itu, Hasina memerintahkan 27 ribu sekolah agar membuat tim pencegahan kekerasan seksual.

Kasus pembunuhan itu menunjukkan apa yang disebut para aktivis sebagai adanya impunitas terhadap kekerasan seksual di Bangladesh serta penyalahgunaan senjata api di 20.000 seminari.

Para aktivis juga menyebut banyak perempuan dan anak yang menjadi pelapor kasus kekerasan seksual seringkali diintimidasi dan ditekan. Bahkan jarang ada perkara yang bisa diselesaikan.

Berdasarkan penelitian kelompok aktivis hak perempuan Maliha Parishad, terdapat 731 insiden kekerasan seksual selama enam bulan pertama. Di antaranya ada 529 pemerkosaan, 113 pemerkosaan bergilir (gang rapes) dan 26 pembunuhan terhadap perempuan setelah mengalami kekerasan seksual.


Kuasa hukum para pelaku mengatakan akan mengajukan banding terhadap putusan di pengadilan tinggi. (fls/ayp)