Kepala Suku Tewas Terbunuh, Kolombia Kerahkan Ribuan Pasukan

CNN Indonesia | Jumat, 01/11/2019 05:48 WIB
Kepala Suku Tewas Terbunuh, Kolombia Kerahkan Ribuan Pasukan Ilustrasi. (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Kolombia bakal mengerahkan 2.500 pasukan khusus untuk melawan kelompok pemberontak Pasukan Bersenjata Revolusi Kolombia (FARC).

Instruksi dikeluarkan setelah sebuah serangan pemberontak di wilayah Cauca menewaskan kepala suku, Nasa Cristina Bautista, dan empat pengawal. Mereka bertugas melindungi wilayah suku di negara itu.


FARC adalah gerakan perlawanan Marxist yang lahir di tahun 1964 di tengah kesenjangan sosial-ekonomi di Kolombia. Mendapat pendanaan dari penjualan kokain dan tebusan penculikan, kelompok ini berkembang dengan 17 ribu tentara di seluruh negeri.


FARC telah melakukan serangkaian serangan terhadap pemerintah hingga menimbulkan korban jiwa sejak tahun 1980an. AS dan Uni Eropa menganggap FARC sebagai organisasi teroris

Presiden Kolombia Ivan Duque, mengatakan, selain menumpas FARC, ribuan pasukan khusus ditugaskan untuk mengambil alih wilayah serta menutup jalur perdagangan narkoba.

[Gambas:Video CNN]

Duque menuduh kelompok pemberontak itu berniat menggunakan senjata untuk membungkam dan meneror warga adat.

Sementara, Organisasi Masyarakat Adat Nasional Kolombia (ONIC) mengutuk keras serangan tersebut. Mereka berencana melakukan demonstrasi besar-besaran atas penganiayaan, pembunuhan, serta pembantaian.


Mereka mendesak pemerintah segera bertindak mengatasi krisis kemanusiaan dan sosial-ekonomi ini.

"Kami memanggil semua masyarakat Kolombia untuk membela kehidupan, hak dan wilayah," kata penasihat ONIC, Luis Fernando Arias, saat melakukan konferensi pers di Bogota.


Organisasi itu berniat mendatangi Komisi Hak Asasi Manusia Inter Amerika. Mereka juga akan mengadu ke Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Hak Masyarakat Adat, Victoria Tauli-Corpuz.

ONIC mengungkapkan sebanyak 123 warga adat terbunuh sejak Duque menjabat pada Agustus 2018 lalu. (fls/dea)