Serangan Pemberontak di Thailand, 15 Hansip Tewas

CNN Indonesia | Rabu, 06/11/2019 13:33 WIB
Serangan Pemberontak di Thailand, 15 Hansip Tewas Ilustrasi. (Istockphoto/ TheaDesign)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebanyak 15 relawan pertahanan sipil tewas dan empat lainnya luka dalam serangan pemberontak di wilayah selatan Thailand, Selasa malam (5/11). Para pemberontak menembaki relawan hansip yang tengah berjaga di dua pos pemeriksaan di Provinsi Yala.

"Dua belas orang tewas di tempat kejadian, dua lagi mengembuskan nafas terakhir di rumah sakit, dan satu meninggal pagi ini," kata juru bicara militer Pramote Prom-in kepada AFP, Rabu (6/11).


Menurut Pramote, kelompok militan juga merampas senapan M-16 dan pistol dari pos pemeriksaan. Hingga kini area di sekitar lokasi kejadian masih ditutup untuk kepentingan penyelidikan.


Serangan tersebut dianggap yang terparah dengan korban jiwa terbanyak dalam beberapa tahun terakhir.

[Gambas:Video CNN]

Wilayah selatan Thailand yang berpenduduk mayoritas etnis Melayu dan Muslim sudah bergolak lebih dari satu dasawarsa. Dalam pemberontakan itu dilaporkan sudah lebih dari 7.000 orang meninggal, baik dari pihak pemeluk Buddha dan Muslim.

Para pemberontak berperang melawan pemerintah untuk menuntut kemerdekaan bagi wilayah selatan Thailand yang secara budaya berbeda dengan penduduk mayoritas yang beragama Buddha.


Mereka juga hampir setiap hari melakukan serangan bom dan penembakan di wilayah selatan Thailand, termasuk pembunuhan terhadap warga sipil beragama Buddha dan Islam yang dianggap pengkhianat atau mata-mata pemerintah.

Beberapa bulan lalu seorang tokoh masyarakat setempat, Abdulloh Esormusor (34), tewas setelah mengalami koma usai ditahan dan diinterogasi aparat. Menurut laporan lembaga pemantau hak asasi manusia setempat, ada dugaan dia disiksa ketika diperiksa aparat.


Seorang pengamat Don Pathan, mengatakan serangan Selasa malam itu menandai upaya koordinasi yang lebih besar. Meski intensitasnya sedikit, kata Pathan, namun jumlah korban jauh lebih banyak. "Ini adalah pengingat bahwa mereka masih ada," kata Pathan. (dea)