AS Kecewa Turki Beli S-400 Rusia, Ancam Jatuhkan Sanksi

CNN Indonesia | Selasa, 12/11/2019 08:29 WIB
AS Kecewa Turki Beli S-400 Rusia, Ancam Jatuhkan Sanksi Presiden AS Donald Trump saat bertemu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (AFP PHOTO / SAUL LOEB)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Amerika Serikat sangat kecewa dengan langkah Turki membeli sistem pertahanan rudal S-400 Rusia. Penasihat Keamanan Nasional, Robert O'Brien mengatakan jika Turki tak menyingkirkan sistem pertahanan udara buatan Rusia tersebut, mereka akan menghadapi sanksi AS.

Turki merupakan sekutu AS di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). AS menyebut S-400 tidak kompatibel dengan NATO dan dapat menimbulkan ancaman bagi jet-jet F-35 Lockheed Martin Corp.

"Tidak ada tempat di NATO untuk S-400," kata O'Brien kepada CBS "Face the Nation" Senin (11/11) seperti dikutip dari Associated Press. "Tidak ada tempat di NATO untuk pembelian militer Rusia yang signifikan."



O'Brien menyampaikan hal itu menjelang pertemuan Presiden Donald Trump dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Kata dia, itu adalah pesan yang akan disampaikan Trump kepada Erdogan dalam pertemuan yang akan digelar Rabu esok di Gedung Putih.

Trump dan Erdogan akan membahas tentang keputusan Turki membeli sistem pertahanan udara Rusia. Rencananya mereka akan melakukan konferensi pers bersama pada Rabu sore.

[Gambas:Video CNN]

Menurut O'Brien, AS akan melakukan apa saja untuk menjaga Turki tetap berada di NATO. Selain dengan Erdogan, Trump juga bertemu dengan Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg pada hari Kamis.

Tensi hubungan Ankara dan Washington meningkat sejak rencana pembelian sistem pertahanan udara rudal S-400 dari Rusia mencuat. Trump memutuskan membatalkan proyek penjualan jet tempur F-35 karena Turki tetap melanjutkan kontrak pembelian S-400 buatan Rusia.


AS lantas mengeluarkan Turki dari program F-35 setelah negara itu menerima pengiriman tahap pertama S-400 pada Juli lalu.

Ketegangan semakin tinggi setelah Turki meluncurkan serangan yang menargetkan pasukan Kurdi di utara Suriah. Kurdi merupakan bekas sekutu AS yang membantu memberangus penyebaran ISIS di Irak dan Suriah.

Sementara Turki menganggap kelompok Kurdi adalah separatis dan teroris, karena ingin membuat negara sendiri di wilayah timur dan selatan dekat perbatasan Suriah dan Irak.


Trump sendiri sebenarnya memberikan lampu hijau serangan Turki. Namun setelah dikritik Kongres, Trump berbalik mengecam Turki. (dea)