Kaisar Naruhito Akan Habiskan Malam Bersama Dewi Matahari

CNN Indonesia | Kamis, 14/11/2019 15:26 WIB
Kaisar Naruhito Akan Habiskan Malam Bersama Dewi Matahari Parade Kaisar Naruhito. (Behrouz MEHRI / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kaisar Naruhito pada Kamis ini (14/11) akan menuntaskan ritual upacara penobatan. Dia akan memasuki sebuah ruangan kayu untuk menghabiskan malam bersama Amaterasu atau Dewi Matahari.

Ritual yang telah berlangsung di Jepang sejak 1.300 tahun lalu itu merupakan wujud terima kasih.

Dikutip dari AFP, malam nanti kaisar akan mengenakan jubah sutra putih diantar masuk ke ruang kayu yang dibangun khusus di istana kekaisaran atau dikenal sebagai Daijoky.



Kaisar kemudian menghilang dari pandangan setelah memasuki aula utama yang hanya diterangi dengan cahaya obor.

Dia lalu berlutut di tempat peristirahatan sang dewi dengan sejumlah persembahan seperti beras yang baru dipanen.

Naruhito yang berusia 59 tahun kemudian memanjatkan doa-doa bagi kedamaian rakyat Jepang sebelum menyantap berbagai hidangan, salmon, abalon, buah jujube, millet, dan sake. Seluruh ritual berakhir tepat sebelum fajar terbit.

[Gambas:Video CNN]

Permaisuri Masako juga melakukan ritual serupa, namun tidak bersama kaisar. Mengenakan kimono putih, permaisuri mengucapkan doa di ruangan terpisah.

Ritual yang harus dijalani Naruhito ini adalah bagian dari proses peralihan kepemimpinan kekaisaran Jepang sejak Mei lalu.

Ritual Daijosai ini dianggap paling penting bagi rumah tangga kekaisaran Jepang, dan hanya akan diadakan sekali dalam masa pemerintahan kaisar.


Namun kontroversi sempat mencuat ketika pemerintah memutuskan memakai kas negara untuk membiayai prosesi penahbisan Kaisar Naruhito.

Menurut para kritikus, upacara tersebut merupakan ritual keagamaan. Pendanaan dari duit publik tentu melanggar konstitusi yang menetapkan pemisahan urusan agama dan negara.


"Ritual Daijosai tak lebih dari sekadar upacara Shinto. [Pendanaan upacara itu] melanggar prinsip pemisahan politik dari agama dan bertentangan dengan kebebasan kepercayaan," demikian pernyataan kelompok Protestan, Uni Gereja Kristen di Jepang. (dea)