Satu Tahun Demo Rompi Kuning Prancis Dibuyarkan Gas Air Mata

CNN Indonesia | Minggu, 17/11/2019 05:56 WIB
Satu Tahun Demo Rompi Kuning Prancis Dibuyarkan Gas Air Mata Ilutrasi aksi rompi kuning di Prancis. (AFP/BORIS HORVAT)
Jakarta, CNN Indonesia -- Polisi Prancis melontarkan gas air mata dan meriam air untuk membuyarkan aksi demonstrasi rompi kuning di Kota Paris, Sabtu (16/11).

Sabtu lalu adalah genap setahun aksi rompi kuning yang dilakukan menolak kebijakan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Bukan hanya di Paris, aksi rompi kuning juga terjadi di sejumlah wilayah di negara tersebut sejak yang pertama pada 17 November 2018. Pada demo yang pertama, setidaknya sekitar 282 ribu orang terlibat aksi mengkritisi kebijakan Macron yang dinilai tak bisa memenuhi kebutuhan dasar warga negara itu, dan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).


Untuk unjuk rasa yang berlangsung Sabtu lalu, seperti dilansir AFP, Kementerian Dalam Negeri Prancis memperkirakan 28.600 orang terlibat di seluruh negeri. Namun, kelompok pengunjuk rasa mengklaim hampir 40 ribu orang yang melakukan aksi hari itu di sejumlah wilayah Prancis.

Di Paris, ketegangan terjadi di alun-alun Place d'ITalie. Pasukan polisi dengan perlengkapan antihuru-hara membanjiri kawasan tersebut dengan gas air mata dan meriam air. Sementara itu para demonstran membalasnya dengan lemparan puing dan sampah.

Ada pula yang membalik-balikkan mobil dan membakarnya.

Pusat perbelanjaan besar di kawasan tersebut menutup pintunya setelah para demonstran melempari batu ke jendala-jendela hotel di sekitar lapangan tersebut.

Gas air mata polisi juga terlihat dilontarkan ke area Les Halles, dekat Museum Pompidou Centre.

[Gambas:Video CNN]
Hingga Sabtu pukul 20.00 waktu sempat atau Minggu (17/11) pukul 02.00 WIB, Polisi Paris menangkap sekitar 147 orang, di mana 129 di antaranya tetap ditahan setelah diperiksa.

Dalam sebuah jajak pendapat yang digelar Elabe Institute menyatakan sekitar 55 persen rakyat Prancis mendukung atau bersimpati pada demonstrasi rompi kuning. Meskipun begitu, sebanyak 63 persen menyatakan mereka tak ingin unjuk rasa berujung rusuh lagi.

(AFP/kid)