Abaikan Ancaman China, Pedemo Hong Kong Kembali Gelar Aksi

CNN Indonesia | Jumat, 15/11/2019 21:03 WIB
Abaikan Ancaman China, Pedemo Hong Kong Kembali Gelar Aksi Aksi demonstran Hong Kong. (Foto: AP Photo/Felipe Dana)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ribuan demonstran pro-demokrasi Hong Kong kembali menggelar aksi unjuk rasa menentang ancaman dari Presiden China, Xi Jinping, pada Jumat (15/11). Aksi demo kali ini memicu gangguan masalah selama lima hari berturut-turut.

Para demonstran menempati beberapa gedung perkuliahan, sementara karyawan kantoran lagi-lagi kesulitan mengakses transportasi umum. Operasional kereta bawah tanah dilaporkan kacau akibat akses jalanan yang diblokir hingga adanya barikade massa.

Tidak hanya para demonstran, ribuan pekerja kantoran juga menggelar aksi damai pada saat jam makan siang dengan menyerukan "Berdiri Bersama Hong Kong" sambil mengangkat telapak tangan yang terbuka serta merentangkan kelima jari tangan.


Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk tuntutan terhadap lima permintaan selama gerakan demonstrasi berlangsung. Salah satunya adalah kebebasan memilih pemimpin Hong Kong serta melakukan penyelidikan independen terhadap kekerasan polisi.

"Pemerintah tidak menanggapi sekali pun aksi damai dua juta orang. Sekarang ketika polisi menyalahgunakan kekuatannya, pemerintah hanya berpikir bahwa masalah ada pada demonstran," ungkap pekerja kantoran yang mengikuti aksi demo seperti dilansir AFP.

Presiden China Xi Jinping sebelumnya mengeluarkan ancaman bahwa aksi unjuk rasa telah mengancam prinsip 'satu negara, dua sistem' yang mengatur negara semi-otonom itu. Xi juga berharap agar pemerintah Hong Kong memprioritaskan penghentian kekerasan untuk mengendalikan kekacauan.

[Gambas:Video CNN]

Namun ketegangan yang terus terjadi dikhawatirkan memancing kesabaran Xi hingga berpotensi menurunkan tentara China di Hong Kong.

Demonstrasi di Hong Kong telah berlangsung selama kurang lebih enam bulan. Aksi demo ini memicu respons masyarakat lantaran merasa kebebasan berekspresi terkikis di bawah pemerintahan China.

Aksi yang sebagian besar dilakukan pada sore hari dan pada akhir pekan tersebut membuat aktivitas sehari-hari di Hong Kong masih bisa berjalan dengan lancar walaupun perekonomiannya terus merosot hingga menyebabkan resesi.

Sementara itu, China tidak memberikan kelonggaran sedikit pun. Demonstran terus mengubah strategi dengan meluncurkan kampanye 'mekar di mana-mana' dengan memicu beragam gangguan hingga membuat pihak kepolisian bingung.

Aksi demonstran Hong Kong juga telah menyebar hingga ke luar negeri. Sekretaris Pertahanan Hong Kong Teresa Cheng dilaporkan jatuh di London setelah dikepung beberapa demonstran pro-demokrasi. Kendati demikian, Cheng dilaporkan tidak mengalami luka-luka akibat penyerangan itu.

Hingga kini, demonstrasi tersebut telah memakan banyak korban. Yang terbaru, seorang kakek berusia 70 tahun meninggal setelah menjadi korban pelemparan batu oleh demonstran. (fls/evn)