Korsel Konfirmasi Kapal Mereka Disita Pemberontak Houthi

CNN Indonesia | Selasa, 19/11/2019 21:01 WIB
Korsel Konfirmasi Kapal Mereka Disita Pemberontak Houthi Ilustrasi pemberontak Houthi. (AFP PHOTO / MOHAMMED HUWAIS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Luar Negeri Korea Selatan mengonfirmasi bahwa kapal mereka ditangkap oleh pemberontak Houthi di Yaman.

Pemberontak Houthi menangkap tiga kapal yang terdiri dari dua kapal Korsel dan satu milik Arab Saudi di Laut Merah pada Minggu (17/11).

Sebanyak 16 awak kapal termasuk dua warga Korsel ditahan oleh para pemberontak. Kemlu Korsel menyatakan kondisi dua orang warga mereka dalam kondisi baik. Pihaknya tengah berupaya untuk segera membebaskan.



"Semua warga kami berada dalam keadaan sehat dan selamat. Kami akan melakukan yang terbaik untuk melepaskan warga kami secepatnya," kata dia dikutip dari AFP, Selasa (19/11).

Sebelumnya, Ketua Komite Revolusi Tertinggi Houthi, Mohammed al-, mengaku kelompoknya telah merebut sebuah kapal yang membawa alat pengeboran minyak di lepas pantai Yaman.

[Gambas:Video CNN]

"Penjaga pantai Yaman melakukan tugasnya untuk menentukan apakah itu... milik agresor atau Korsel. Jika itu Korsel, maka akan dibebaskan setelah prosedur hukum. Kami menjamin semua orang jadi tidak perlu khawatir tentang keadaan para awak kapal," kata al- di Twitter.

Insiden itu terjadi setelah milisi Houthi menghentikan serangan ke Arab Saudi pasca pembukaan dialog oleh pemerintah Saudi kepada kelompok pemberontak yang diduga didukung Iran itu.


Arab Saudi bersama sekutunya sempat berupaya melakukan intervensi dalam konflik di perang sipil Yaman dengan mendukung Presiden Abedrabbo Mansout Hadi setahun setelah milisi Houthi menguasai ibu kota Sanaa.

Perang sipil Yaman yang telah terjadi sejak 2015 lalu itu pun dilihat secara luas sebagai perang proxy antara Saudi dan Iran, dua kekuatan besar di Timur Tengah. Saudi selama ini membantu pemerintah Yaman untuk memberangus Houthi yang diduga disokong Iran.


Menurut kelompok kemanusiaan, hingga hari ini konflik sipil di Yaman telah merenggut puluhan ribu jiwa. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan menganggap konflik yang telah berjalan selama empat tahun ini sebagai krisis kemanusiaan terburuk sepanjang sejarah. (fls/dea)