Filipina Bebaskan Warga Inggris yang Disandera Abu Sayyaf

AFP, CNN Indonesia | Senin, 25/11/2019 17:54 WIB
Filipina Bebaskan Warga Inggris yang Disandera Abu Sayyaf Ilustrasi pasukan Filipina. (AFP PHOTO / Ted ALJIBE)
Jakarta, CNN Indonesia -- Militer Filipina dilaporkan berhasil membebaskan seorang warga Inggris Alan Hyron, bersama istrinya, Wilma. Keduanya menjadi sandera kelompok Abu Sayyaf selama dua bulan terakhir.

Filipina berhasil menyelamatkan kedua sandera itu setelah militer terlibat baku tembak dengan Abu Sayyaf selatan Pulau Jolo, wilayah yang menjadi basis kuat kelompok militan tersebut.

"Sempat ada baku tembak singkat tetapi mereka (Abu Sayyaf) meninggalkan kedua pasangan suami istri itu setelah dibuat kelimpungan oleh militer," kata Letnan Jenderal Filipina, Cirilito Sobejana, kepada AFP pada Senin (25/11).


Sobejana menuturkan saat ini Alan dan Wilma sudah dievakuasi ke tempat aman oleh para personel Filipina.

Sementara itu, dilansir AFP, juru bicara militer regional Filipina, Arvin Encinas, mengklaim tidak ada uang tebusan yang dikeluarkan untuk membebaskan kedua sandera.

Kedutaan Inggris di Manila membenarkan bahwa Alan dan Wilma telah dibebaskan.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah dan pihak berwenang Filipina," bunyi pernyataan Kedubes Inggris.

Alan dan Wilma disandera Abu Sayyaf ketika berlibur di sebuah resort di selatan Pulau Mindanao pada 4 Oktober lalu. Wilayah itu telah lama dikenal dengan gerakan separatis dan pemberontakan minoritas Islam.

[Gambas:Video CNN]

Selain melakukan aksi teror, kelompok Abu Sayyaf juga kerap merompak kapal dan menyandera awak untuk meminta tebusan. Uangnya lantas digunakan untuk membeli persenjataan.

Sejumlah warga Indonesia menjadi korban penyanderaan oleh kelompok ini. Saat ini, masih ada tiga nelayan asal Indonesia yang disandera Abu Sayyaf.

Ketiga WNI itu bernama Maharudin Lunani (48), sang anak bernama Muhammad Farhan (27), dan seorang lainnya bernama Samiun Maneu (27). 

Kelompok Abu Sayyaf menangkap Maharudin, Farhan, dan Samiun ketika ketiganya tengah melaut dan memancing udang di Pulau Tambisan, Lahad Datu, Sabah, pada September lalu.

Pekan lalu, video penyanderaan ketiga WNI itu beredar di Facebook. Dalam video itu, salah satu sandera, Samiun, meminta pertolongan bos dan Presiden Joko Widodo untuk membayar tebusan 30 juta peso (Rp8,3 miliar) agar dia dan dua rekannya bisa bebas dari Abu Sayyaf.

Hingga kini, belum diketahui bagaimana kondisi ketiga WNI itu setelah baku tembak terbaru antara Abu Sayyaf dan militer Filipina. 

Namun, Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri, Judha Nugraha, menuturkan pemerintah Indonesia terus berkoordinasi dengan otoritas Malaysia dan Filipina untuk membebaskan ketiga nelayan Indonesia tersebut. (rds/evn)