Mata-mata China Minta Perlindungan ke Australia

CNN Indonesia | Selasa, 26/11/2019 00:03 WIB
Mata-mata China Minta Perlindungan ke Australia Ilustrasi. Seseorang yang diduga mata-mata China dilaporkan membelot dan meminta perlindungan kepada pemerintah Australia. (Istockphoto/tiero)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seseorang yang diduga mata-mata China, Wang 'William' Liqiang, dilaporkan membelot kepada pemerintah Australia. Dia disebut memberikan sejumlah informasi penting terkait operasi intelijen Negeri Tirai Bambu di Hong Kong, Taiwan dan negara lain.

Seperti dilansir AFP, Senin (25/11), Wang mengaku dia ditugaskan untuk melakukan operasi penyusupan dan mengacaukan di tiga wilayah. Dia mengatakan China mempunyai sejumlah perusahaan yang digunakan untuk membiayai operasi mata-mata seperti pengintaian, membuat profil orang-orang yang dianggap musuh negara, dan mempengaruhi media massa.


Wang dilaporkan bermukim di Sidney bersama istri dan anaknya yang masih bayi dengan visa turis. Dia saat ini dilaporkan mengajukan permintaan suaka politik.


Wang mengaku tidak bisa kembali ke kampung halamannya karena bakal dihukum mati.

"Kalau saya pulang, saya bakal mati," kata Wang.

Wang menyatakan sudah mengaku di hadapan Organisasi Intelijen dan Keamanan Australia (ASIO) pada Oktober lalu bahwa dia adalah mata-mata. Dia menyatakan sudah melakukan tugas infiltrasi di Taiwan dengan kedok identitas samaran sebagai seorang warga Korea Selatan.

Di Taiwan, Wang bersama sejumlah agen China melakukan operasi untuk mencampuri pemilihan wali kota pada 2018 dan pemilihan presiden pada tahun depan.

[Gambas:Video CNN]

Dia menyatakan operasi itu dilakukan dengan cara mendekati pemilik media massa Taiwan untuk mempengaruhi pemilih dan melemahkan citra kandidat yang dianggap bertentangan dengan China. Wang juga mengkoordinir pasukan siber untuk membentuk opini politik masyarakat, sama seperti cara yang diduga dilakukan Rusia pada pilpres Amerika Serikat tiga tahun lalu.

Wang lantas kabur ke Australia karena diduga penyamarannya sudah terungkap oleh badan intelijen Taiwan.

Sedangkan untuk Hong Kong, Wang menyatakan dia menyusup ke sejumlah kampus dan media massa untuk melawan propaganda gerakan pro demokrasi. Dia juga mengumbar data pribadi sejumlah aktivis Hong Kong dengan cara meretas.

Selain itu, Wang juga mengaku terlibat dalam penculikan terhadap seorang aktivis dan pemilik toko buku Causeway Bay di Hong Kong, Lee Bo, pada empat tahun lalu. China menuduh Lee Bo menjual buku-buku yang provokatif.

Selain itu, Wang menyatakan seorang agen China yang berlatar belakang intelijen militer sengaja ditanam di Hong Kong sebagai petinggi salah satu jaringan stasiun televisi besar di Asia. Dia juga mengatakan pernah bertemu dengan salah satu mata-mata kondang dari China yang bekerja di perusahaan energi di Canberra, Australia.


"Dia mengatakan kepada saya ditempatkan di Canberra. Saya tahu posisinya sangat penting," ujar Wang. (ayp/ayp)