China Tuding AS Biang Kerok Konflik Dunia

CNN Indonesia | Senin, 25/11/2019 14:43 WIB
China Tuding AS Biang Kerok Konflik Dunia Ilustrasi HUT ke-70 Republik Rakyat China. (AP Photo/Mark Schiefelbein)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah China menuduh Amerika Serikat adalah sumber ketidakstabilan di dunia akibat kebijakannya yang proteksionis dan kerap mencampuri urusan dalam negeri negara lain.

Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menuturkan sejumlah politikus AS kerap menjelek-jelekkan China ke seluruh dunia tanpa fakta atau bukti. Sebagai salah satu negara kuat, Wang menyatakan AS memang seharusnya memikul banyak tanggung jawab.

Akan tetapi, menurut Wang, tanggung jawab AS itu tak jarang merusak hubungan antarnegara dan perdagangan global. Hal itu dikatakan Wang saat bertemu dengan Menlu Belanda, Stef Blok, di Amsterdam pada pekan lalu.


"AS telah menjadi sumber ketidakpastian terbesar di dunia," kata Wang seperti dikutip dari The South China Morning Post, Senin (25/11).


Dalam pertemuan itu Wang juga menuturkan bahwa perkembangan dan pertumbuhan China tak terhindarkan dan tidak bisa dihentikan oleh kekuatan apa pun.

"Tidak ada jalan keluar untuk persaingan zero-sum AS. Hanya kerja sama win-win solution antara China dan AS yang merupakan jalan yang benar," kata Wang.

Pernyataan itu diutarakan Wang menyusul Kongres AS menyepakati Rancangan Undang-Undang (RUU) Hak Asasi Manusia dan Demokrasi Hong Kong.

Langkah itu membuat geram China. Beijing mengancam akan membalas Washington jika RUU itu benar-benar disahkan menjadi undang-undang,

"AS telah secara besar-besaran mencampuri urusan dalam negeri China dengan undang-undang domestiknya, berusaha melemahkan prinsip 'satu negara, dua sistem', dan kemakmuran dan stabilitas Hong Kong," tutur Wang.

Jika disahkan menjadi undang-undang, RUU pro-demokrasi Hong Kong bisa menjadi landasan bagi AS untuk menjatuhkan sanksi bagi para pejabat China dan Hong Kong yang diduga melanggar hak asasi manusia.

[Gambas:Video CNN]

RUU itu juga dapat digunakan sebagai instrumen peninjauan tahunan terkait status perdagangan kepada Hong Kong dari AS.

Sementara itu, pemerintah Hong Kong menganggap RUU yang diloloskan Senat AS justru bisa merusak relasi dan kepentingan bersama kedua belah pihak.

Melalui pernyataan, pemerintah Hong Kong mengungkapkan sangat menyesal terkait persetujuan terkait RUU tersebut.

"RUU itu tidak penting dan tidak beralasan. Prinsip satu China dengan dua sistem telah sepenuhnya berhasil dilaksanakan dan bahwa HAM dan kebebasan di Hong Kong sepenuhnya dilindungi oleh UU HAM Hong Kong dan aturan lainnya dalam UUD kami," ucap juru bicara pemerintah Hong Kong.

Trump memiliki tenggat sampai 2 Desember mendatang untuk mengesahkan RUU final tersebut. Meski Trump tak mau mengesahkan RUU itu, beleid tersebut tetap akan resmi menjadi hukum secara otomatis.

RUU ini digodok ketika AS-China tengah menjalani perundingan untuk mengakhiri perang dagang antara kedua negara yang telah berlangsung sejak 2018 lalu.


"Saya ingin melihat [RUU] itu bekerja. Kami harus melihat itu bekerja. Saya mendukung Hong Kong, saya mendukung kebebasan, saya mendukung apa yang kita [AS] ingin lakukan, tapi kita juga sedang berupaya membuat kesepakatan dagang terbesar dalam sejarah. Jika kita bisa melakukannya, itu akan sangat baik," kata Trump. (rds/ayp)