Massa Hari Anti Kekerasan Perempuan Ditembaki Gas Air Mata

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 26/11/2019 16:32 WIB
Aparat kepolisian Turki menembakkan gas air mata ke arah demonstran perempuan dalam aksi memperingati Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan. Ilustrasi gas air mata. (AP Photo/Hadi Mizban)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pihak kepolisian Turki menembakkan gas air mata ke arah massa aksi unjuk rasa memperingati Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan pada Senin (25/11).

Para peserta aksi menuntut pemerintah untuk mengakhiri impunitas bagi pelaku kekerasan terhadap perempuan. Kasus kekerasan terhadap perempuan menjadi salah satu masalah utama di Turki.

Aksi unjuk rasa yang mulanya berjalan damai menjadi ricuh setelah aparat kepolisian memblokir massa dengan peralatan anti huru-hara lengkap untuk membubarkan aksi.


Sekitar 2 ribu perempuan turut serta dalam aksi unjuk rasa. Mereka beramai-ramai membawa beragam atribut aksi yang meneriakkan tuntutan terhadap pemerintah untuk mengakhiri impunitas. Beberapa atribut lain menyematkan nama-nama korban perempuan yang telah tewas dibunuh oleh pelaku.

"Pembunuhan perempuan di Turki telah meningkat tajam. Kami dibungkam," ujar salah satu peserta aksi, Ozge Cekcen (25), melansir AFP.

Turki merupakan salah satu negara dengan tingkat kekerasan terhadap perempuan yang tinggi. Sebanyak 378 perempuan Turki telah terbunuh sepanjang 2019. Angka ini menurun dari 440 kasus pembunuhan perempuan pada 2018, dan meningkat drastis dari 121 kasus pada 2011.

Dalam beberapa pekan terakhir, Turki tengah diramaikan oleh kasus pembunuhan seorang perempuan Emine Bulut (38) oleh sang suami di depan putrinya yang masih berusia 10 tahun. Pada Senin, Pengadilan Turki telah menjatuhkan hukuman seumur hidup pada pelaku.

Meski telah dijatuhi hukuman, namun sering kali para pelaku kekerasan terbebas dari hukum atas alasan 'telah berkelakuan baik'.

Pegiat hak asasi perempuan di Turki telah sejak lama menuduh sistem peradilan di Turki yang tak memihak kaum perempuan. Hukum yang diberikan dirasa tak cukup memberikan efek jera pada pelaku kekerasan.

Meski Turki telah meratifikasi Konvensi Istanbul yang bertujuan untuk menghentikan aksi kekerasan terhadap perempuan, faktanya impunitas terhadap pelaku masih eksis hingga saat ini.

[Gambas:Video CNN] (asr/asr)