Bukti Proses Pemakzulan Trump Diserahkan Pekan Depan

CNN Indonesia | Selasa, 26/11/2019 14:23 WIB
Bukti Proses Pemakzulan Trump Diserahkan Pekan Depan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (Stephanie Keith/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Panitia khusus upaya pemakzulan di Dewan Perwakilan Amerika Serikat yang mengusut dugaan penyalahgunaan wewenang Presiden Donald Trump menyatakan hasil penyelidikan mereka bakal selesai pada pekan depan.

Menurut Ketua Komisi Intelijen Dewan Perwakilan, Adam Schiff, laporan itu akan diserahkan ke Komisi Hukum setelah Kongres kembali berkegiatan usai libur Hari Mengucap Syukur (Thanksgiving) pada Selasa pekan depan.


"Seluruh bukti soal kekeliruan yang dilakukan presiden yang sudah kami kumpulkan sudah sangat jelas dan sulit dibantah," kata Schiff.


"Kini saatnya kita memutuskan apakah sikap itu sejalan dengan tanggung jawab sebagai presiden, dan apakah kami bisa mengajukan pemakzulan secara konstitusional," ujar Schiff.

Schiff menyatakan selama dua pekan proses pemanggilan dan mendengar kesaksian sejumlah orang, sampai saat ini terungkap sejumlah bukti yang memberatkan, meski Trump dan pemerintahannya mencoba merintangi proses tersebut.

Menurut Schiff, upaya Trump untuk mengatur pertemuan dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, dan mencoba menekan negara itu dengan menahan bantuan militer adalah sikap memalukan dan sarat dengan muatan politis terkait pencalonan kembali Trump dalam pemilihan presiden 2020.

Schiff juga menyatakan ada kemungkinan dewan perwakilan kembali memanggil sejumlah orang yang dianggap penting untuk didengar kesaksiannya terkait skandal yang dilakukan Trump. Menurut dia, orang-orang yang harus dipanggil selanjutnya adalah Kepala Staf Kepresidenan Mick Mulvaney dan Menteri Luar Negeri, Mike Pompeo.

[Gambas:Video CNN]

Schiff menyatakan jika ada pihak-pihak yang mengabaikan permintaan panggilan dari panitia khusus dan dewan, maka akan diajukan ke Komisi Hukum untuk dijerat dengan sangkaan merintangi Kongres.

Penyelidikan pemakzulan Trump dibuka setelah sang presiden terindikasi menyalahgunakan wewenang untuk menekan Zelensky supaya melakukan penyelidikan terhadap anak Joe Biden, Hunter. Joe Biden bakal menjadi rival Trump di pilpres mendatang.

Trump dituduh menekan Zelensky dengan cara menahan bantuan militer AS. Melalui beberapa kali komunikasi telepon, Trump meminta Zelensky untuk menyelidiki dugaan korupsi yang dilakukan Hunter Biden, yang merupakan anggota komisaris perusahaan energi Ukraina, Burisma.

Kasus dugaan korupsi itu diduga dibuat-buat lantaran Trump tidak memiliki bukti awal. Trump berkali-kali membantah tuduhan tersebut dan merasa seolah-olah sedang menjadi korban pembunuhan karakter.


Jika Dewan Perwakilan yang dikuasai Partai Demokrat memutuskan memakzulkan Trump, maka sang presiden akan menghadap Senat yang dikuasai Partai Republik untuk disidang. Meski demikian, melihat peta politik seperti itu Senat harus membuktikan tuduhan yang disampaikan Dewan Perwakilan, tetapi belum tentu akan mendepak Trump dari kursi kekuasaannya. (ayp/ayp)