Gara-gara Wabah Campak, Pemerintahan Samoa Tutup

CNN Indonesia | Selasa, 03/12/2019 12:57 WIB
Gara-gara Wabah Campak, Pemerintahan Samoa Tutup Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Syaiful Arif)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Samoa memutuskan menutup layanan publik selama dua hari demi menanggulangi wabah campak yang telah merebak di negara selatan Pasifik itu. 

Sejauh ini, wabah tersebut telah merenggut 53 jiwa yang sebagian besar merupakan anak-anak di bawah umur empat tahun.

Perdana Menteri Samoa Tuilaepa Lupesoliai Sailele Malielegaoi mengumumkan pihaknya akan mengerahkan seluruh pegawai negeri sipil untuk membantu petugas kesehatan melaksanakan vaksin massal selama pemerintah tutup.



"Anak-anak juga telah dilarang untuk berkumpul di ruang publik terbuka dengan banyak orang-orang yang berkumpul," kata Malielegaoi pada Senin (2/11) seperti dikutip dari CNN.

Pemerintah Samoa telah menetapkan status darurat nasional wabah campak sejak 15 November lalu. Pihak berwenang juga menutup sekolah-sekolah untuk sementara waktu.
[Gambas:Video CNN]
Vaksin massal sendiri telah berlangsung sejak 20 November lalu. Juru bicara Malielegaoi, Nanai Laveitiga Tuiletufuga, menuturkan sejauh ini sebanyak 58 ribu orang telah divaksin.

Hingga kini, pemerintah Samoa mencatat ada total 3,728 orang terkena campak yang terjadi di negara itu dan seluruhnya belum pernah menerima vaksin.

Campak merupakan penyakit pernapasan yang sangat menular dan dapat dicegah dengan vaksin. Gejala campak terdiri dari ruam dan bintik-bintik atau bentol merah datar, demam, batuk, pilek, dan mata berair.


Anak-anak adalah yang paling rentan terhadap wabah tersebut. Penyakit itu menyebabkan iritasi kulit dan demam, tetapi jika terlambat ditangani maka bisa menyebabkan kerusakan otak hingga kematian.

Sekitar 1 dari setiap 1.000 anak yang terkena campak tercatat menderita ensefalitis atau pembengkakan otak. Hal itu dapat menyebabkan kejang-kejang, tuli, atau cacat intelektual.


Wabah campak memang mengalami peningkatan dalam dua tahun terakhir. Berdasarkan data UNICEF, hampir sebanyak 350 ribu kasus campak terjadi pada 2018. Jumlah itu dua kali lipat lebih dari kasus yang terjadi setahun sebelumnya. (rds/dea)