Dokter Jepang Tewas Diberondong di Afghanistan

CNN Indonesia | Kamis, 05/12/2019 05:05 WIB
Dokter Jepang Tewas Diberondong di Afghanistan Ilustrasi pembunuhan. (Istockphoto/Sestovic)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang dokter asal Jepang, dr. Tetsu Nakamura (73) yang menjadi relawan di Afghanistan tewas dibunuh. Mobil yang dikendarainya diberondong tembakan oleh orang tidak dikenal ketika melintas di jalanan Kota Jalalabad, Provinsi Nangarhar.

"Sangat disayangkan dr. Nakamura meninggal akibat luka tembak dalam serangan hari ini," kata juru bicara Provinsi Nangarhar, Attaulah Khogyani, seperti dilansir AFP, Rabu (4/12).
Dalam kejadian itu lima warga Afghanistan juga tewas. Mereka adalah tiga pengawal, seorang sopir, dan satu rekannya.

Dari hasil otopsi, Nakamura tertembak pada bagian dada sebelah kanan. Dia meninggal ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit.


Nakamura tergabung dalam misi damai bidang kesehatan. Rekannya, Mitsuji Fukumoto, menyatakan sampai saat ini belum mengetahui motif penembakan.

"Saya tidak tahu alasan di balik serangan itu, apakah perampokan atau ada konflik kepentingan," kata Fukumoto.

[Gambas:Video CNN]

Nakamura mendirikan organisasi bantuan itu sejak 1984. Dia bermukim di Afghanistan dan Pakistan sejak 1980-an untuk menangani pasien lepra.

Sepak terjangnya sebagai aktivis kesehatan yang berada di daerah konflik cukup mengilap. Pada 2003, Nakamura yang lahir di Fukuoka meraih penghargaan Ramon Magsaysay untuk perdamaian.

Nakamura juga salah satu aktivis yang menentang penyerbuan Amerika Serikat ke Afghanistan pada 2001, usai tragedi serangan Wolrd Trade Center pada 11 September di tahun yang sama.

Kelompok Taliban menolak bertanggung jawab terkait kejadian itu. Mereka menyatakan menghormati lembaga yang turut membantu pembangunan Afghanistan.

Nangarhar dilaporkan menjadi basis kelompok bersenjata simpatisan Negara Islam (ISIS-Khurasan). Meski mereka disebut berhasil dipukul mundur, tetapi sebagian kecil pengikutnya diperkirakan masih berada di sana.
Serangan terhadap relawan asing juga kerap terjadi di Afghanistan. Pada 24 November lalu, seorang warga AS yang menjadi staf Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), Anil Raj, meninggal setelah mobil yang ditumpanginya diserang bom di Ibu Kota Kabul.

Pada Mei lalu, kelompok Taliban menyerang kantor organisasi relawan asal AS, Counterpart International. Sebanyak sembilan orang meninggal dalam serangan itu. (ayp/ayp)