Mengulik Perjalanan NATO, Aliansi Militer di Atlantik Utara

CNN Indonesia | Kamis, 05/12/2019 13:22 WIB
Mengulik Perjalanan NATO, Aliansi Militer di Atlantik Utara Para kepala negara di KTT NATO di London, Inggris. (Adrian Dennis / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebanyak 29 pemimpin negara anggota NATO kembali bertemu dalam pertemuan tinggi yang digelar di London, Inggris, pada 3-4 Desember.

KTT tahun ini digelar bertepatan dengan peringatan tujuh puluh tahun Pakta Pertahanan Atlantik Utara itu berdiri.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, Kanselir Jerman Angela Merkel, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, turut hadir dalam pertemuan tersebut.
 
Dikutip dari atlanticcouncil.org, NATO dibentuk pada 4 April 1949 oleh 12 negara penggagas. Belasan negara yang terdiri dari Belgia, Kanada, Denmark, Prancis, Islandia, Italia, Luxembourg, Belanda, Norwegia, Portugal, Inggris, dan Amerika Serikat itu menandatangani kesepakatan di Washington DC.


Berdasarkan piagam NATO, tujuan utama pakta itu dibentuk adalah untuk "mempromosikan stabilitas dan kesejahteraan negara di wilayah Atlantik Utara dengan menyatukan upaya untuk pertahanan kolektif demi menjaga perdamaian dan keamanan."

Saat itu, NATO dibentuk untuk membendung ancaman ekspansi komunisme dan Uni Soviet yang ingin memperluas ekspansi ke Eropa.

Uni Soviet juga membentuk aliansi tandingan NATO bernama Pakta Warsawa yang terdiri dari Albania, Bulgaria, Cekoslovakia (sekarang Republik Ceko), Jerman Timur, Hungaria, Polandia, dan Rumania.

Negara NATO sepakat jika musuh menyerang salah satu anggotanya berarti menyerang seluruh anggota.

Pasca Uni Soviet pecah, NATO memperbarui visi dan misi serta memulai menjalin hubungan dengan negara-negara bekas anggota Pakta Warsawa, termasuk Rusia.

Republik Ceko, Hungaria, dan Polandia merupakan negara eks Pakta Warsawa pertama yang menjadi anggota NATO pada 1999 setelah pecah dari Uni Soviet.


Namun, perubahan situasi geopolitik mengharuskan NATO menangguhkan seluruh kemitraan dengan Rusia setelah Negara Beruang Merah menunjukkan agresivitasnya terhadap Ukraina dengan mencaplok Crimea pada 2014.

Markas NATO saat ini berada di Brussels, Belgia. Setiap tahun, NATO menggelar setidaknya 5.000 pertemuan dengan para anggota dan mitranya. Seluruh keputusan yang dikeluarkan NATO dihasilkan dari konsensus.

Tak Lagi Solid

NATO kini memiliki 29 anggota termasuk Montenegro dan Turki. Namun, di usianya yang lebih dari setengah abad, NATO terancam pecah. Visi dan misi aliansi militer paling penting di dunia itu dipertanyakan sejumlah anggota.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kerap mengeluh tentang banyak negara NATO yang gagal membayar "iuran" keanggotaan.
[Gambas:Video CNN]
Presiden Prancis Emmanuel Macron juga belakangan mempertanyakan manfaat NATO. Ia menganggap sejumlah negara anggota NATO tak lagi memiliki persepsi yang sama terkait ancaman dan keamanan.


Macron bahkan mempertanyakan klausa keamanan kolektif NATO dan menganggap bahwa strategi aliansi tersebut "sudah mati otak" sehingga tak bisa lagi diandalkan untuk menjaga perdamaian dan keamanan negara anggotanya. (rds/dea)