Jasad Dokter Jepang Dibunuh di Afghanistan Dipulangkan

CNN Indonesia | Senin, 09/12/2019 10:09 WIB
Jasad dokter asal Jepang yang tewas dibunuh di Afghanistan, dr. Tetsu Nakamura (73), dipulangkan ke negara asalnya pada Minggu (8/12) kemarin. Ilustrasi. (Istockphoto/Nito100)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jasad dokter asal Jepang yang tewas dibunuh di Afghanistan, dr. Tetsu Nakamura (73), dipulangkan ke negara asalnya pada Minggu (8/12) kemarin. Istri dan anak tertua mendiang turut menemani pemulangan jenazah dari Ibu Kota Kabul.

Seperti dilansir AFP, Senin (9/12), pesawat yang membawa jenazah berangkat dari Kabul dengan upacara pelepasan yang dihadiri Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani.
Pesawat itu lantas mendarat di Bandara Narita, Tokyo. Rombongan disambut oleh Wakil Perdana Menteri Keisuke Suzuki.

Mereka sempat menggelar upacara doa sejenak di bandara. Jasad Nakamura diletakkan di dalam peti yang dibungkus kain putih.


Jenazah Nakamura akan dimakamkan di kota kelahirannya, Fukuoka, pada hari ini.

Kematian Nakamura membuat terkejut banyak warga Afghanistan. Sebab, sosoknya dihormati karena sudah membantu banyak warga setempat sejak 1980-an.

Insiden pembunuhan itu terjadi pada 3 Desember lalu. Mobil yang dikendarai Nakamura diberondong tembakan oleh orang tidak dikenal ketika melintas di jalanan Kota Jalalabad, Provinsi Nangarhar.

[Gambas:Video CNN]

Dalam kejadian itu lima warga Afghanistan juga tewas. Mereka adalah tiga pengawal, seorang sopir, dan satu rekannya.

Dari hasil otopsi, Nakamura tertembak pada bagian dada sebelah kanan. Dia meninggal ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Nakamura mendirikan organisasi bantuan kesehatan sejak 1984. Dia bermukim di Afghanistan dan Pakistan sejak 1980-an untuk menangani pasien lepra.

Sepak terjangnya sebagai aktivis kesehatan yang berada di daerah konflik cukup mengilap. Pada 2003, Nakamura yang lahir di Fukuoka meraih penghargaan Ramon Magsaysay untuk perdamaian.
Nakamura juga salah satu aktivis yang menentang penyerbuan Amerika Serikat ke Afghanistan pada 2001, usai tragedi serangan Wolrd Trade Center pada 11 September di tahun yang sama. (ayp/ayp)