Insiden Penembakan, AS Diminta Berhenti Latih Tentara Saudi

CNN Indonesia | Senin, 09/12/2019 12:08 WIB
Insiden Penembakan, AS Diminta Berhenti Latih Tentara Saudi Ilustrasi penembakan. (Istockphoto/thawornnurak)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kongres Amerika Serikat mendesak pemerintah untuk menghentikan sementara program latihan bersama dengan Angkatan Udara Arab Saudi. Desakan itu disampaikan selepas insiden penembakan yang dilakukan salah satu serdadu Saudi, Muhammad Alshamrani (21), yang menewaskan tiga pelaut dan melukai enam orang pada pekan lalu.

"Kita harus secepatnya menghentikan program itu untuk penyelidikan. Saya menyukai sekutu. Arab Saudi adalah sekutu, tetapi yang terjadi di sini sangat buruk. Kita harus mengevaluasi program ini," kata Senator fraksi Republik, Lindsey Graham, seperti dilansir AFP, Senin (9/12).
Insiden itu terjadi pada 6 Desember lalu. Alshamrani (21) yang merupakan perwira berpangkat letnan di Angkatan Udara Kerajaan Arab Saudi mendadak melepaskan tembakan di dalam ruang kelas di Pangkalan Angkatan Laut AS Pensacola, Florida. Dia lantas ditembak mati oleh polisi setempat.

Menurut Badan Penyelidik Federal AS (FBI), mereka menyelidiki dugaan terorisme dalam kejadian itu. Namun, keputusan itu belum final.


Penyidik juga menginterogasi enam rekan Alshamrani yang ditugaskan untuk belajar di AS. Pelaku disebut sempat menunjukkan rekaman video tentang penembakan massal pada malam hari sebelum kejadian.

Alshamrani juga disebut sempat mencuit melalui akun Twitter bahwa dia akan melakukan penembakan itu karena AS adalah "negara iblis". Menteri Pertahanan, Mark Esper, menyatakan sudah memerintahkan untuk meninjau ulang program latihan bersama antara militer AS dan Saudi.

[Gambas:Video CNN]

Anggota Dewan Perwakilan fraksi Republik, Matt Gaetz, menyatakan hal senada dengan Graham. Dia meminta program latihan bersama itu dihentikan sementara.

Selama ini AS dan Saudi adalah sekutu dekat. Saudi selalu membeli alat utama sistem persenjataan dari AS.

Pemimpin Arab Saudi, Raja Salman, mengutuk kejadian itu. Dia mengatakan pelaku tidak mewakili bangsa Saudi.

Sedangkan Pangeran Khalid bin Salman yang merupakan anak bungsu Raja Salman sekaligus menjabat wakil menteri pertahanan menyampaikan ucapan bela sungkawa terhadap korban dan keluarganya.

"Saya pernah belajar di pangkalan militer AS dan hal itu sangat berguna bagi kami untuk saling membantu melawan terorisme dan ancaman lain," cuit Pangeran Khalid di Twitter.
Presiden AS, Donald Trump, menyatakan Raja Salman dan Putra Mahkota, Pangeran Muhammad bin Salman, berjanji akan membantu keluarga korban penembakan itu. Namun, dia tidak merinci seperti apa bentuk bantuan tersebut. (ayp/ayp)