China Bakal Lanjutkan Pelatihan bagi Muslim Uighur di Kamp

CNN Indonesia | Senin, 09/12/2019 18:43 WIB
China Bakal Lanjutkan Pelatihan bagi Muslim Uighur di Kamp Ilustrasi keseharian Muslim Uighur di Xinjiang. (Greg Baker / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- China membela kamp pendidikan di Xinjiang dan menyatakan bakal melanjutkan program pelatihan bagi etnis minoritas Muslim Uighur.

Pernyataan itu dirilis menyusul kebocoran dokumen pemerintah dan DPR Amerika Serikat meloloskan RUU Uighur.

Dikutip AFP, Pemerintah China meluncurkan upaya propaganda dalam beberapa hari terakhir untuk membenarkan tindakan keras mereka terhadap Uighur.

Ketua wilayah barat, Shohrat Zakir, menolak tudingan kelompok-kelompok hak asasi manusia dan ahli asing yang menyebut lebih dari satu juta warga Uighur ditahan di kamp-kamp itu.


"Siswa dengan bantuan pemerintah telah merealisasikan pekerjaan yang stabil (dan) meningkatkan kualitas hidup mereka," kata Zakir.

Namun dia tidak memberikan jumlah pasti orang yang dididik di pusat pendidikan kejuruan itu.
[Gambas:Video CNN]
"Saat ini mereka yang ada di pusat pelatihan itu telah menyelesaikan kursus," ujarnya. Dia menambahkan bahwa ada orang yang masuk dan keluar dari kamp tersebut.

Selain itu, Pemerintah Xinjiang juga ingin melanjutkan pelatihan pendidikan harian, rutin, normal, dan terbuka untuk kader desa, anggota partai pedesaan, petani, penggembala, lulusan sekolah menengah dan para pengangguran.

Bulan lalu, New York Times mempublikasikan dokumen setebal 403 halaman yang menunjukkan Presiden Xi Jinping memerintahkan para pejabat untuk bertindak "tanpa belas kasih" terhadap etnis minoritas Muslim di Xinjiang, Uighur.

Sejumlah dokumen yang berhasil diperoleh International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ) juga mengungkap otoritas China menerapkan protokol ketat yang mengatur kehidupan orang Uighur dan etnis minoritas lainnya di tempat penampungan tersebut layaknya kamp penahanan.

Namun, Beijing berdalih mereka hanya menampung warga Uighur dalam sebuah program pelatihan vokasi, bukan kamp penahanan demi membantu memberdayakan dan menghindari mereka terpapar paham radikalisme dan ekstremisme.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia dan media asing, termasuk AFP, telah melaporkan bahwa dokumen-dokumen resmi dan gambar-gambar satelit menunjukkan fasilitas dilengkapi dan dijalankan seperti penjara.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia memperkirakan lebih dari satu juta warga Uighur dan sebagian besar minoritas Muslim lainnya ditahan di fasilitas itu, yang menurut laporan digambarkan sebagai kamp-kamp indoktrinasi yang dijalankan seperti penjara dan bertujuan memberantas budaya dan agama Uighur. (dea)