Putin-Presiden Ukraina Lanjutkan Proses Perdamaian Krimea

CNN Indonesia | Selasa, 10/12/2019 11:59 WIB
Putin-Presiden Ukraina Lanjutkan Proses Perdamaian Krimea Pertemuan antara Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky (paling kiri), dan Presiden Rusia, Vladimir Putin (paling kanan) di Paris, Prancis. (LUDOVIC MARIN / POOL / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Rusia, Vladimir Putin, dan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, sepakat melanjutkan proses perdamaian menyusul konflik berdarah yang masih berlangsung di timur Ukraina dan pencaplokan Krimea oleh Rusia pada 2014 lalu. Kesepakatan itu dicapai Putin dan Volodymyr dalam pertemuan perdana mereka di Paris, Prancis, pada Senin (9/12) kemarin.

Presiden Prancis, Emmanuel Macron, dan Kanselir Jerman, Angela Markel, menjadi penengah dalam pertemuan itu. Mereka fokus membicarakan masa depan perjanjian damai Rusia-Ukraina yang diteken pada 2015 lalu di Minsk.
Dalam pertemuan itu, Putin dan Zelensky disebut sepakat berunding lagi dalam empat bulan kedepan untuk menemukan solusi baru atas konflik yang berlangsung di wilayah timur Ukraina itu. Konflik tersebut merenggut nyawa lebih dari 14 ribu orang selama lima tahun berlangsung.

"Ada beberapa perbedaan pendapat, terutama terkait kerangka waktu dan langkah-langkah selanjutnya. Kami terlibat diskusi yang sangat panjang terkait ini dalam pertemuan tadi," ucap Macron usai pertemuan berlangsung di Istana Elysee.


Sementara itu, Putin menegaskan bahwa tidak ada jalan alternatif selain melaksanakan perjanjian 2015 lalu.

Merujuk pada perjanjian itu, Putin menekankan Ukraina harus segera mengesahkan undang-undang yang memberikan otonomi luas kepada daerah-daerah yang dikuasai pemberontak di timur Ukraina.

Rusia disebut mendukung para pemberontak dan separatis di wilayah timur Ukraina.

[Gambas:Video CNN]

Putin juga menegaskan agar Ukraina segera mengampuni para pemberontak. Dalam pertemuan itu, Putin dan Zelensky juga sepakat melanjutkan pertukaran tahanan.

Ukraina dan Rusia memang telah beberapa kali melakukan pertukaran tahanan.

Rusia-Ukraina juga setuju untuk menerapkan kembali gencatan senjata, menarik pasukan secara bertahap, membersihkan ranjau, hingga menghancurkan benteng di wilayah timur Ukraina.

Zelensky mengaku bahwa gencatan senjata sudah beberapa kali diterapkan dengan hasil yang nihil. Namun, ia percaya kesepakatan gencatan senjata kali ini bisa berhasil.
"Kali ini kami sepakat untuk menerapkan [gencatan senjata] dengan serius. Saya yakin bahwa semua pihak menginginkannya dengan kuat dan kami akan dapat mengimplementasikannya," kata Zelensky seperti dikutip Associated Press.

Meski pertemuan kedua belah pihak berhasil menghidupkan kembali proses damai, Putin dan Zelensky tidak membahas isu utama dari konflik pemberontak di wilayah timur Ukraina, yakni otonomi dan kendali perbatasan. (rds/ayp)