Dikutip dari AFP, sebuah granat tangan dilemparkan ke sebuah truk militer yang berpatroli di Kota Cotabato di Pulau Mindanao Selatan. Sebanyak delapan orang tentara dan empat warga sipil menderita luka-luka akibat pecahan bom bom itu.
Ledakan lain kemudian terjadi di kota Maguindanao. Pihak kepolisian pun masih mengumpulkan informasi soal kemungkinan keberadaan korban.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden Rodrigo Duterte hendak melakukan demiliterisasi di Mindanao Selatan tahun ini. (Ted ALJIBE / AFP) |
Polisi, yang meyakini para pelaku adalah anggota Tentara Rakyat Baru, saat ini tengah memeriksa daerah itu.
Sejauh ini belum ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu.
Diketahui, pemerintah Filipina sendiri berencana untuk menarik kekuasaan militernya di pulau itu pada tahun ini dengan pertimbangan situasi keamanan yang membaik.
Filipina selama ini terus diganggu oleh pemberontakan, termasuk pemberontakan separatis di Mindanao, yang telah menewaskan sekitar 100 ribu orang.
[Gambas:Video CNN]
Kesepakatan damai memang sudah tercapai antara pemerintah dengan kelompok pemberontak terbesar, Front Pembebasan Islam Moro (MILF), pada 2019.
Namun, masih ada faksi-faksi ekstremis lain yang tak ikut dalam kesepakatan itu. Misalnya, ISIS yang terkait dengan BIFF dan Abu Sayyaf, yang merupakan kelompok yang kerap melakukan penculikan demi tebusan.
Kelompok-kelompok itu pun dikaitkan dengan insiden ledakan di luar sebuah pusat perbelanjaan di Cotabato, tahun lalu, yang menewaskan dua orang dan melukai 35 lainnya.
(afp/arh)
Presiden Rodrigo Duterte hendak melakukan demiliterisasi di Mindanao Selatan tahun ini. (