Seperti dilansir Associated Press, Jumat (27/12), Salih menolak calon PM yang diajukan fraksi Fatah yang dianggap pro-Iran di parlemen, Asaad al-Eidani. Dia adalah gubernur Provinsi Basra.
"Saya tidak mendukung Asaad al-Eidani demi menghindari pertumpahan darah dan untuk menjaga ketertiban dan kedamaian masyarakat," demikian isi pernyataan Salih.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sosok Asaad yang pro-Iran juga ditolak demonstran. Meski sebagian warga Irak memeluk Syiah, tetapi mereka mempunyai sentimen negatif dengan Iran.
Sebab, di masa lalu kedua negara terlibat perang besar. Akan tetapi, faksi Fatah mengecam pernyataan Salih.
[Gambas:Video CNN]
"Kami mendesak parlemen mengambil tindakan yang melanggar undang-undang dasar dan mengkhianati sumpah jabatan," demikian isi pernyataan Fatah.
Dalam UUD Irak, fraksi terbesar di Parlemen bisa mengusulkan nama perdana menteri dan harus disetujui presiden. Tenggat untuk menentukan perdana menteri baru sudah dua kali terlewat.
Di dalam parlemen Irak terdapat dua fraksi besar. Yakni Sairoon yang dipimpin ulama Syiah, Muqtada al-Sadr, dan Fatah yang dipimpin Hadi al-Amiri.
Lihat juga:Parlemen Menyetujui Pengunduran Diri PM Irak |
Aksi unjuk rasa yang berlangsung sejak 1 Oktober lalu dipicu oleh kemiskinan dan wabah korupsi di pemerintahan. Namun, Irak menerjunkan militer dan menembaki para pengunjuk rasa dengan peluru tajam. (ayp/ayp)