KILAS INTERNASIONAL

Demo Tahun Baru Hong Kong Sampai Debat Laut Natuna RI-China

CNN Indonesia | Kamis, 02/01/2020 08:06 WIB
Demo Tahun Baru Hong Kong Sampai Debat Laut Natuna RI-China Ilustrasi demonstran Hong Kong. (AP Photo/Kin Cheung)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah peristiwa terjadi di berbagai belahan dunia pada Rabu (1/1) kemarin. Mulai dari demonstran dan polisi Hong Kong bentrok saat pergantian tahun sampai debat RI-China soal pelanggaran wilayah di Laut Natuna. CNNIndonesia.com merangkum sejumlah kejadian tersebut dalam kilas internasional.


1. Unjuk Rasa saat Tahun Baru di Hong Kong Ricuh

puluhan ribu warga Hong Kong memilih turun ke jalan menggelar aksi unjuk rasa saat tahun baru. Unjuk rasa besar-besaran ini berakhir ricuh dan bentrok dengan kepolisian.


Para demonstran berkumpul dan melakukan pawai yang dijuluki 'Suck the Eve' dan 'Shop with You' yang sengaja digelar saat Tahun Baru. Aksi demo ini merupakan bagian dari gerakan pro-demokrasi, pasca dibatalkannya RUU ekstradisi.

Diberitakan AFP, aksi demonstrasi yang berawal damai ini pecah saat memasuki distrik Wan Chai. Polisi anti huru-hara lalu menembakkan gas air mata dan semprotan merica untuk membubarkan kerumunan.

[Gambas:Video CNN]

Sementara pengunjuk rasa melemparkan bom molotov. Pendemo yang berpakaian hitam dan bertopeng itu langsung menyiapkan barikade darurat.

Aksi unjuk rasa ini merupakan lanjutan dari demo yang dilakukan jutaan orang sejak Juni 2019. Sejak saat itu, polisi telah menangkap 6.500 orang yang terlibat unjuk rasa tersebut.

Hingga saat ini belum terlihat tanda-tanda demo akan berakhir. Padahal, Pemimpin Hong Kong, Carrie Lam telah memutuskan mencabut RUU Ekstradisi yang sebelumnya menjadi pemicu konflik. Namun, pengunjuk rasa masih memiliki sejumlah tuntutan yang ditolak Lam.


2. Indonesia-China Saling Klaim Kedaulatan di Laut Natuna

China menolak protes Indonesia yang menuding kapal ikan Tiongkok sempat memasuki perairan Natuna, Kepulauan Riau, secara ilegal baru-baru ini.

Beijing menegaskan bahwa pihaknya memiliki kedaulatan di wilayah Laut China Selatan dekat perairan Natuna, Kepulauan Riau, sehingga kapal-kapalnya boleh berlayar dengan bebas di kawasan tersebut.

"China memiliki kedaulatan atas Kepulauan Nansha dan memiliki hak berdaulat dan yurisdiksi atas perairan dekat dengan Kepulauan Nansha (yang terletak di Laut China Selatan)," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang, dalam jumpa pers rutin di Beijing pada Selasa (31/12), seperti dikutip dari situs Kementerian Luar Negeri China.

Geng menegaskan China juga memiliki hak historis di Laut China Selatan. Menurutnya, nelayan-nelayan China telah lama melaut dan mencari ikan di perairan itu dan sekitar Kepulauan Nansha, yang menurut Indonesia masih merupakan zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia.

[Gambas:Video CNN]

Indonesia menolak dengan tegas klaim China yang mengaku memiliki kedaulatan atas perairan di dekat Kepulauan Nansha, Laut China Selatan, yang berbatasan langsung dengan Laut Natuna, Kepulauan Riau.

Melalui pernyataan pada Rabu (1/1), Kementerian Luar Negeri RI menuturkan wilayah yang diklaim China itu masih merupakan zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia.

Jakarta menganggap klaim historis Beijing soal perairan tersebut tidak memiliki dasar hukum dan tidak pernah diakui oleh hukum internasional.

"Klaim historis China atas ZEE Indonesia dengan alasan bahwa para nelayan China telah lama beraktivitas di perairan dimaksud bersifat unilateral, tidak memiliki dasar hukum dan tidak pernah diakui oleh UNCLOS 1982," papar Kemlu. (ayp/ayp)