Ng Lok-chun, inspektor senior kepolisian mengatakan penangkapan dilakukan atas tuduhan kepemilikan senjata ofensif dan perakitan senjata yang melanggar hukum. Sebelumnya para pengunjuk rasa disebut mengabaikan peringatan polisi untuk membubarkan diri.
"Sayang, sekali lagi, para perusuh telah membajak prosesi hari ini, hingga polisi memutuskan untuk mengakhiri protes pada sore hari," ujar Ng seperti mengutip South China Morning Post.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya itu, Ng mengatakan pengunjuk rasa juga mulai melemparkan benda-benda keras ke arah polisi.
"Setelah memberikan peringatan, massa tetap tidak membubarkan diri hingga kemudian menembakkan gas air mata dan mengerahkan kendaraan taktis. Polisi juga telah memperingatkan untuk menghentikan serangan dan pengrusakan," ungkapnya dalam sebuah pernyataan resmi seperti dilansir UPI.
[Gambas:Video CNN]
Pada pukul 17.30 polisi kemudian membubarkan sekitar satu juta massa Front Hak Asasi Manusia Sipil dalam aksi demonstrasi. Kendati demikian, Ng mengatakan ketegangan antara massa dan polisi telah mereda.
Polisi kemudian terpaksa menangkap pedemo yang menolak membubarkan diri.
"Di hari pertama di 2020, polisi membubarkan pedemo dengan alasan yang tidak masuk akal. Pemerintah Hong Kong enggan mendengarkan suara massa yang melanggar hak berkumpul warga," ungkap seorang pedemo dari kelompok pro-demokrasi.
Di saat polisi anti huru-hara menembakkan gas air mata dan semprotan merica untuk membubarkan massa, pengunjuk rasa membalas dengan melemparkan bom molotov. Pendemo yang berpakaian hitam dan bertopeng itu langsung menyiapkan barikade darurat.
Aksi unjuk rasa ini merupakan lanjutan dari demo yang dilakukan jutaan orang sejak Juni 2019. Sejak saat itu, polisi telah menangkap 6.500 orang yang terlibat unjuk rasa tersebut (evn)