AS-Iran Memburuk, Filipina Evakuasi Warga dari Irak

CNN Indonesia | Rabu, 08/01/2020 16:17 WIB
AS-Iran Memburuk, Filipina Evakuasi Warga dari Irak Presiden Filipina, Rodrigo Duterte. (Noel CELIS / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Filipina memerintahkan untuk mengevakuasi dengan segera seluruh warga negara mereka yang berada di Irak. Korps Penjaga Pantai negara itu dilaporkan sudah mengirim kapal ke Timur Tengah untuk membantu proses penyelamatan, untuk menghindari peperangan akibat perseteruan Amerika Serikat dan Iran yang semakin memburuk.

Seperti dilansir Associated Press, Rabu (8/1), Kementerian Luar Negeri Filipina menetapkan status awas terkait situasi keamanan di Irak. Hal itu mengharuskan seluruh warga negara tersebut harus segera meninggalkan wilayah itu dengan mandiri atau dibantu majikan, atau menunggu bantuan angkutan pemerintah.


Diperkirakan saat ini ada sekitar 1,600 warga Filipina yang bekerja di Irak. Beberapa dari mereka ada yang menjadi pegawai di kantor perwakilan lembaga AS di Irak.


Presiden Rodrigo Duterte dilaporkan menggelar rapat sejak akhir pekan lalu untuk membahas rencana evakuasi. Duterte sudah mengutus perwakilan ke Irak untuk meminta jaminan dari negara itu dan Iran untuk tidak membahayakan warga negaranya jika terjadi perang terbuka.

Filipina menyatakan kapal patroli yang baru selesai dibuat di Prancis dan seharusnya langsung menuju Ibu Kota Manila akan dikerahkan ke Timur Tengah terlebih dulu. Kapal itu bisa menampung 500 orang sekali jalan, dan kemungkinan akan berlabuh di Oman atau Dubai.

"Jika terjadi perang, warga Filipina yang bekerja di negara lain akan dibawa ke pelabuhan yang aman kemudian akan diangkut menggunakan pesawat atau helikopter," demikian pernyataan kapal penjaga pantai Filipina.

[Gambas:Video CNN]

Warga Filipina yang mengadu nasib di Timur Tengah diperkirakan berjumlah ratusan ribu orang. Mereka menjadi negara dengan jumlah pekerja migran terbesar di dunia.

Kebanyakan warga Filipina yang bekerja di negara lain berprofesi sebagai asisten rumah tangga, pekerja bangunan, operator kilang minyak, pelaut atau karyawan kantoran. Jika mereka dipulangkan, maka kemungkinan besar akan berdampak terhadap perekonomian Filipina.

Pertikaian antara AS dan Iran semakin memburuk di awal 2020. Serangan drone AS pada 3 Januari lalu menewaskan seorang jenderal Iran, Qasem Soleimani, dan asistennya.

AS menuduh Soleimani berencana menyerang pasukan dan warga AS di Timur Tengah. Sedangkan Iran menyatakan tindakan AS sebagai aksi teror dan bersumpah akan membalas.


Menurut Juru Bicara Kementerian Pertahanan AS (Pentagon), Jonathan Hoffman, Iran dilaporkan melepaskan sekitar puluhan rudal balistik ke dua pangkalan pasukan AS dan Koalisi di Ain Assad dan Irbil pada hari ini. (ayp/ayp)