Alasan di Balik Keputusan Trump Tak Balas Serangan Iran

CNN Indonesia | Kamis, 09/01/2020 20:40 WIB
Alasan di Balik Keputusan Trump Tak Balas Serangan Iran Presiden AS Donald Trump. (Foto: Lee Jin-man / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan tidak akan mengerahkan kekuatan militer untuk membalas serangan roket Iran dalam dua hari berturut-turut yang diterima oleh tentara di Irak. Di balik keputusan tersebut, Trump diketahui mendapat banyak masukan dan pertimbangan dari sejumlah petinggi negara.

Diplomat Amerika Serikat sekaligus perwakilan khusus untuk Iran, Brian Hook melakukan pertemuan di Gedung Putih. Hook bersama Wakil Presiden Mike Pompeo, pemimpin minoritas senat Chuck Schumer, Menteri Pertahanan Mark Esper, Jenderal Angkatan Darat Mark Milley, dan penasehat keamanan Robert O'Brien.

Hook yang berbicara di atas panggung mengatakan keputusan untuk tidak menyerang balik lantaran rakyat Irak, Libanon, dan Iran menginginkan negara mereka kembali seutuhnya.


"Rakyat Iran dan Libanon serta Iran menginginkan negara mereka kembali. Dan mereka lelah dengan Iran yang tidak bisa tinggal di dalam perbatasannya sendiri," ucap Hook singkat.

Sebelumnya para pejabat tinggi negara melakukan pertemuan dan membahas langkah yang akan ditempuh usai mendapat serangan pertama dari Iran.

Di tengah pertemuan pada Selasa (7/1) pukul 19.30 waktu AS, para petinggi tengah menanti kabar jumlah tentara yang menjadi korban serangan rudal Iran. Seorang senator kepada CNN mengatakan jika setelah berbicara dengan Trump diketahui ia siap melancarkan aksi balasan jika ada korban dari pihak AS.

Lantaran bukti awal menunjukkan jika tidak ada tentara AS yang dilaporkan tewas. Seorang sumber mengatakan jika para tentara AS di dua pangkalan yang diserang rudal bersembunyi di dalam bunker bawah tanah.

Gedung Putih juga mengonfirmasi jika masih menunggu kondisi di lapangan pasca serangan yang dilakukan pada Rabu (8/1) dini hari waktu Irak. Atas alasan tersebut akhirnya pemerintah AS mempertimbangkan untuk menahan serangan balasan ke Iran.

[Gambas:Video CNN]

Informasi yang diperoleh dari satelit dan pesawat AS di kawasan Timur Tengah dikonfirmasi jika tidak ada tentara yang menjadi korban serangan di basis militer dan kantor kedubes di Irak.

Usai menggelar pertemuan di ruang oval, Gedung Putih, para pembantu Trump mendesak untuk membuat pidato kenegaraan. Kerangka kerja pidato disusun bersama dengan asistem Stephen Miller dan para penasihat senior.

Sejumlah pejabat tinggi Gedung Putih menyatakan penyesalan tindakan sepihak Trump yang menewaskan Soleimani. Terlebih usai serangan tersebut, Trump sempat mendapat desakan dari ajudan Gedung Putih dan menantunya, Jared Kushner untuk menyampaikan pidat. Kendati akhirnya rencana tersebut urung dilakukan.

Suasana hati Trump digambarkan sangat positif kendati dua pangkalan militer AS di Irak dihujani rudal Iran. Bahkan dalam cuitan di akun Twitter pribadinya, ia mengatakan "semua baik-baik saja" dan tidak ada korban serta kerusakan di basis militer tersebut.

Iran menanti respons balasan AS

Usai melancarkan serangan ke basis militer dan kantor kedubes AS di Irak, seorang pejabat senior mengatakan Iran mulai menjalin komunikasi dengan sejumlah negara, termasuk Swiss.

Pejabat tersebut mengatakan Iran menyampaikan pesan bahwa mereka akan menunggu dan melihat respons AS atas serangan yang dilakukan Iran.

Setelah mendapat kepastian kondisi di lapangan pada pukul 1 dini hari, Gedung Putih akhirnya memutuskan tidak menempuh opsi melancarkan serangan balasan. Kendati demikian, Gedung Putih memutuskan mengambil opsi kedua yakni menjatuhkan sanksi bagi Iran.

Trump akhirnya sepakat untuk menjatuhkan tambahan sanksi ekonomi bagi Iran. Hal ini menandakan jika ancaman ekskalasi bisa mulai diredam.

"Mereka [Iran] telah mundur - sekarang kami mengambil sedikit langkah mundur [bukan menyerang balik]," ungkap seorang pejabat senior Gedung Putih.

Ekskalasi antara Iran dan Amerika Serikat memanas setelah serangan pesawat nirawak yang menewaskan komando Pasukan Quds, Qasem Soleimani pada Jumat pekan lalu. Presiden Donald Trump mengklaim serangan tersebut dilancarkan atas perintahnya.

Sebagai aksi balasan, Iran melancarkan serangan rudal yang menyasar dua pangkalan militer tentara AS di Irak pada Rabu (8/1) dini hari. Tak sampai disitu, Iran melanjutkan serangan kedua pada Kamis (9/1) yang menghantam kedutaan besar AS di Irak. (CNN/evn)