Iran Tantang Kanada Buka Data Boeing 737 Jatuh akibat Rudal

CNN Indonesia | Jumat, 10/01/2020 07:26 WIB
Iran Tantang Kanada Buka Data Boeing 737 Jatuh akibat Rudal Pesawat Ukraina jatuh di Iran. (AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Iran mengaku ragu dengan hasil laporan yang menyebut pesawat Boeing 737 milik maskapai Ukraina jatuh di Teheran akibat tembakan rudal.

Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengatakan negaranya memiliki data dari berbagai sumber intelijen yang menunjukkan bahwa pesawat Ukraine International Airlines itu jatuh akibat tertembak rudal Iran.

Dikutip dari AFP, Jumat (10/1) pemerintah Iran dalam sebuah pernyataan mendesak Kanada untuk membuka informasi tersebut.

Kementerian Luar Negeri Iran juga mengundang Amerika Serikat selaku pembuat pesawat Boeing untuk berpartisipasi dalam penyelidikan kecelakaan itu.


Pesawat yang mengangkut 176 orang, terdiri dari 167 penumpang, dan sembilan kru itu jatuh di Bandara Imam Khomeini di Teheran tak lama setelah lepas landas, Rabu (8/1) pagi waktu setempat.

Sejumlah pemimpin negara mendukung dugaan Trudeau bahwa pesawat itu jatuh karena terkena rudal.
[Gambas:Video CNN]
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan semakin banyak bukti mendukung bahwa bahwa insiden disebabkan oleh Iran yang secara tidak sengaja menembak jatuh pesawat tersebut.

Presiden AS Donald Trump menyiratkan bahwa para pejabat Washington percaya pesawat yang hendak terbang menuju Kyiv itu dihantam oleh satu atau lebih rudal Iran sebelum mendarat dan meledak.

Pesawat dengan nomor penerbangan PS752 itu jatuh tak lama setelah Iran meluncurkan rudal balistik ke basis pasukan AS di Irak. Serangan itu diluncurkan sebagai aksi balasan atas kematian perwira tinggi militer Iran Mayor Jenderal Qasem Soleimani.

Teheran mengatakan pihaknya siap untuk mengizinkan para ahli dari negara-negara korban kecelakaan untuk membantu penyelidikan.

Pesawat itu membawa 82 warga Iran, 63 warga Kanada, 11 warga Ukraina (dua penumpang dan sembilan kru), 10 warga Swedia, empat warga Afghanistan, tiga warga Jerman, dan tiga orang berkebangsaan Inggris. (dea)