Pelanduk Itu Bernama Irak

CNN Indonesia | Kamis, 09/01/2020 15:05 WIB
Irak saat ini terjebak di antara perseteruan Amerika Serikat dengan Iran. Ilustrasi demonstrasi di Baghdad, Irak. (AP Photo/Khalid Mohammed)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Amerika Serikat dan Iran harus menyelesaikan masalah mereka di luar Irak. Kami tidak ingin mereka menyelesaikan masalah mereka di sini," kata seorang demonstran antikorupsi Irak yang enggan disebut namanya.

Ungkapan demonstran tersebut menjadi suara hati sebagian besar warga Irak. Mereka sudah lelah dengan peperangan dan kemiskinan yang membuat negara itu terus bergolak dan jatuh ke dalam jurang aksi kekerasan.

Amerika Serikat menggelar serangan udara pada 3 Januari lalu hingga menewaskan seorang jenderal Iran, Qasem Soleimani. Seketika itu juga kawasan Timur Tengah memanas.


Irak kini seolah terjebak di tengah-tengah perseteruan antara AS dan Iran. Di sisi lain, negara itu juga masih berusaha berbenah akibat perang dan terorisme.


Setelah diserbu AS pada 2003 hingga berhasil menumbangkan rezim mendiang Saddam Hussein, Irak terus bergejolak. Penyerbuan AS itu memicu pemberontakan kelompok Sunni hingga 2011.

Hal itu menjadikan Irak sebagai lahan subur berkembangnya kelompok radikal. Kondisi itu memicu kelahiran kelompok Negara Islam (ISIS).

AS akhirnya kembali mengirim pasukan untuk menggempur ISIS, tetapi pemerintah Irak sudah lebih dulu merapat ke Iran. Sampai saat ini ada sekitar 5.200 pasukan AS yang berada di negara itu untuk melatih serdadu Irak melawan sisa-sisa ISIS.

Kelompok Syiah di Irak juga perlahan tumbuh dan membentuk milisi. Pengaruh mereka juga kuat di dalam kancah perpolitikan negara itu.

Salah satu kelompok milisi Syiah Irak yang saat ini punya posisi kuat di bidang politik dan kekuatan persenjataan adalah Front Mobilisasi Rakyat (PMF). Mereka dikenal sangat dekat dengan Iran.


Politikus yang bersekutu dengan mereka mengisi mayoritas kursi parlemen dan kabinet. Akan tetapi, tidak seluruh faksi Syiah di Irak mau bersekutu dengan Iran. Meski begitu, mereka punya musuh bersama: Amerika Serikat.

Perang pengaruh

Sebagai negara yang dilanda perang, Irak sampai saat ini masih tertatih. Perekonomian negara itu belum juga stabil.

Padahal, negara itu kaya minyak. Menurut Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), Irak adalah penghasil minyak bumi kedua terbesar di dunia. Namun, berdasarkan telaah lembaga non-pemerintah Transparency International, mereka menempati urutan ke-12 negara terkorup di dunia.

Hal itu memicu aksi unjuk rasa besar-besaran merebak di seluruh Irak sejak 1 Oktober 2019. Mereka menuntut langkah konkret pemerintah untuk menekan kemiskinan, penyediaan lapangan kerja, dan memberantas korupsi.

Para demonstran menganggap pemerintahan rezim saat ini yang sangat pro Iran adalah biang keladi yang menjerumuskan Irak ke dalam jurang kemiskinan dan korupsi.

[Gambas:Video CNN]

Menurut peneliti Yayasan Pertahanan Demokrasi, Behnam Ben Taleblu, Irak saat ini menjadi medan perang pengaruh antara AS dan Iran. AS bakal mencoba mempertahankan hubungan dengan Irak untuk menjamin kegiatan ekonomi mereka di sana berjalan lancar. Sedangkan Iran ingin menjadikan Irak sebagai sekutu mereka untuk memperkuat posisi politik di kawasan Timur Tengah.

Iran harus melakukan itu untuk menandingi pengaruh Arab Saudi, yang merupakan sekutu AS sekaligus musuh bebuyutan mereka.

"Saya pikir Iran dan AS adalah dua kekuatan asing yang mempengaruhi kebijakan luar negeri, keamanan dan politik Irak. Namun, penduduk Irak menginginkan pemerintah untuk mendahulukan kepentingan mereka," kata Taleblu, seperti dikutip Associated Press, Kamis (9/1).

Taleblu mengatakan, Iran mencampuri keputusan rezim Irak untuk memilih pejabat di lembaga tertentu yang dianggap bisa diajak bekerja sama, untuk menjaga kepentingan mereka di negara itu.

Akan tetapi, ketika dua kekuatan asing itu saling bertikai, maka rakyat Irak yang harus menanggung akibatnya jika perang terbuka benar-benar terjadi. (ayp/ayp)