AS Tolak Permintaan untuk Menarik Pasukan dari Irak

CNN Indonesia | Sabtu, 11/01/2020 03:14 WIB
AS Tolak Permintaan untuk Menarik Pasukan dari Irak Ilustrasi tentara AS. (morgueFile/taliesin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat (AS) pada Jumat (10/1) ini menolak permintaan perdana menteri sementara Irak untuk mengirim delegasi guna memulai persiapan penarikan 5.200 tentaranya dari negara itu.

"Pada saat ini, setiap delegasi yang dikirim ke Irak akan berdedikasi untuk membahas cara terbaik untuk kembali berkomitmen pada kemitraan strategis kami - bukan untuk membahas penarikan pasukan, tetapi postur pasukan kami yang tepat dan tepat di Timur Tengah," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Morgan Ortagus seperti dikutip dari AFP, Jumat (10/1).

Sebagai informasi, para pemimpin Irak memang meminta AS menarik pasukannya dari negara mereka. Permintaan dilakukan karena mereka geram oleh serangan pesawat tak berawak AS di bandara Baghdad pekan lalu.


Serangan itu menewaskan jenderal senior Iran Qassem Soleimani. Perdana Menteri sementara Adel Abdel Mahdi telah meminta Amerika Serikat untuk mengirim delegasi guna melaksanakan penarikan tersebut.

Permintaan tersebut ia sampaikan langsung kepada Sekretaris Negara AS Mike Pompeo.

Abdel Mahdi meminta agar para delegasi dikirim ke Irak untuk mengatur mekanisme pelaksanaan keputusan parlemen untuk penarikan pasukan asing dari Irak. Departemen Luar Negeri membela kehadiran pasukan AS dengan tujuan memerangi kelompok Negara Islam.

"Amerika adalah kekuatan untuk kebaikan di Timur Tengah," kata Ortagus dalam sebuah pernyataan.

"Kami ingin menjadi teman dan mitra bagi Irak yang berdaulat, makmur, dan stabil," tambahnya.

[Gambas:Video CNN]
Amerika Serikat menginvasi Irak pada tahun 2003 untuk menjatuhkan diktator Saddam Hussein, yang memicu pertumpahan darah di seluruh negeri.

Setelah penarikan yang diperintahkan oleh mantan presiden Barack Obama, pasukan AS diundang kembali pada tahun 2014 untuk membantu mengalahkan kelompok Negara Islam ekstremis.

Namun di bawah Presiden Donald Trump, Irak semakin menjadi ajang pertempuran proksi antara Amerika Serikat dan Iran, yang juga telah memerangi kelompok Negara Islam.

Milisi Syiah Irak yang didukung Iran telah menembakkan roket ke pangkalan AS ketika pemerintah Trump mencoba mencekik Iran melalui sanksi besar-besaran.

(agt/agt)