Tentara AS Kembali Lanjutkan Operasi Militer di Irak

CNN Indonesia | Kamis, 16/01/2020 11:54 WIB
Tentara AS Kembali Lanjutkan Operasi Militer di Irak Amerika Serikat dilaporkan akan memulai kembali operasi militer di Irak setelah sempat dihentikan menyusul kematian jenderal Iran Qasem Soleimani. (Andrew Craft/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat dilaporkan akan memulai kembali operasi militer di Irak setelah sempat dihentikan menyusul kematian jenderal Iran Qasem Soleimani.

Menurut laporan New York Times, Rabu (15/1) dua petinggi militer AS mengatakan bahwa Pentagon ingin melanjutkan operasi untuk memerangi ISIS.

Ribuan tentara AS dikerahkan ke Irak untuk mendukung pasukan lokal mencegah ISIS kembali bangkit. Mereka menjadi bagian dari koalisi internasional yang diundang Irak pada 2014 silam untuk melawan ISIS.

Washington menghentikan operasi itu pada 5 Januari lalu atau dua hari setelah serangan drone AS menewaskan perwira tinggi militer Mayor Jenderal Qasem Soleimani di sekitar bandara Baghdad.
[Gambas:Video CNN]
Parlemen Irak telah meminta pemerintah mengusir 5.000 tentara AS dari sana setelah insiden itu. Terlebih serangan yang diluncurkan pada 3 Januari itu turut menewaskan salah satu tokoh militer Irak, Abu Mahdi al-Muhandis.


Serangan itu memicu gelombang unjuk rasa menolak perang proxy yang terjadi antara Iran dan AS dalam wilayah teritorial Irak. Warga Irak sudah lelah dengan peperangan dan kemiskinan yang membuat negara itu terus bergolak dan jatuh ke dalam jurang aksi kekerasan.

Hingga kini tidak diketahui apakah Irak menyetujui rencana AS untuk kembali melanjutkan operasi militer tersebut.

Saat dihubungi AFP, Pentagon mengaku tidak dapat memberikan informasi mengenai hal itu.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pada Senin kemarin mengungkapkan bahwa para pemimpin Irak secara pribadi mendukung kehadiran pasukan AS di sana, meskipun ada seruan pengusiran.

"Mereka tidak akan mengatakan secara terbuka. Tetapi secara pribadi mereka semua menerima kenyataan bahwa AS masih ada di sana melaksanakan misi anti-teror," kata Pompeo di sebuah forum di Universitas Stanford. (dea)